Saya pikir, bertambahnya usia itu cuma soal biologis. Ternyata banyak aspek psikologis yang ikut berubah. Yang dulunya orang itu santai kaya di pantai, pas ketemu lagi ternyata jadi ansietas. Saya pun belakangan mulai menyadari bahwa ada hal-hal yang keliatan “biasa aja”, tapi belakangan ini sering membuat saya irritate.

Hal ini membuat saya penasaran apakah saya berubah menjadi orang tua yang terlalu sensitif atau baperan? Atau hal-hal seperti ini tuh memang irritating? Kalau teman-teman punya pendapat, boleh share di kolom komentar yak!

Here we go

“When people with higher income said that they don’t have money”

Kalo Nagita Savina atau Raffi Ahmad bilang mereka ga punya uang sih saya bodo amat hehehe. Yang kadang membuat irritate adalah ketika kalimat itu datang dari lingkungan terdekat kita.

Pernah ngga sih punya kerabat atau teman yang lebih beruntung dari kita, tapi entah kenapa suka sekali mengumbar kalau mereka ngga punya uang dihadapan kita yang masih struggling?

Kalau pas jaman kuliah mah saya bodo amat, namanya anak kuliah kan pasti manajemen keuangannya suka rada-rada kacau gitu. Tapi, entah kenapa semakin berumur semakin saya merasa mengumbar kemalangan karena ngga punya uang di hadapan orang yang memang uangnya terbatas itu sangat tone deaf. Apalagi kalau yang diajak omong beneran tahu keuangan kita.

Kadang kalau mendengar statement seperti itu dari orang yang kita tahu lebih beruntung dari kita, jadi suka mempertanyakan diri sendiri, “apa usahaku belum cukup ya makanya belum beruntung?” atau kepikiran, “yang uangnya segitu banyak aja ngeluh ga punya uang, aku harus usaha kayak gimana lagi ya?”

Baca juga  Program Vaksin HPV: Women should celebrate!

“Rejeki orang kan beda-beda”
“Kan bisa aja orang itu dikasih rejeki banyak tapi juga pengeluarannya banyak”
“Jangan iri sama orang lain”

Betul sih. Makanya, saya jadi kepikiran untuk ngga lagi bilang “ngga punya uang”, atau ngga bahas sama sekali terkait finansial sama orang lain (meski itu cuma sekedar bilang “ngga punya uang”), karena kita ngga tahu struggle apa yang dialami tiap-tiap orang.

Memang, makin tua saya makin sadar. Topik tentang finansial itu sangat amat sensitif. Karena ujung-ujungnya pasti menyangkut keberlangsungan hidup seseorang. Apalagi buat orang dewasa yang ngga lagi bergantung sama siapapun.

Apalagi buat orang dewasa yang merasakan sendiri susahnya mencari uang.

“When people assume about your life”

“Suami mu kan orang asing, pasti hidupmu enak ya”
“Kamu dan suami kan bekerja, berarti punya banyak uang donk”

Capek sih dikira gini gitu.
Tapi, kalo kasih klarifikasi rasanya kok kayak mengumbar kehidupan pribadi. Ngga penting juga sebenernya.

Kalo kata teman saya sih, kalo ada orang yang berasumsi begitu, senyum aja sambil mbathin “JERUK NIPIS” dalam bahasa Jepang. Alias ライム wkwk

Karena saya ngga suka orang punya asumsi jelek, saya juga akan belajar untuk ngga berasumsi terhadap orang lain. Termasuk terhadap orang-orang beruntung yang bilang dirinya tidak beruntung seperti di poin sebelumnya. Ya mungkin memang lagi ada masalah dalam hidupnya.

“When people make a joke about your flaw”

Semakin tua, saya semakin suka berpikir. Kalau menurut psikologi modern, itu namanya overthinking alias ovt. Karena, makin tua saya makin sadar bahwa ada banyak tanggungjawab dalam hidup ini yang harus saya tanggung sebagai orang dewasa.

Baca juga  Mengulik Penelitian Terapi Brainwash

Bagi saya, ovt ngga selalu buruk. Beberapa ide ovt yang saya punya malah menyelamatkan saya dari berbagai masalah.

Ya memang sih, kadang saya bisa hanyut dalam ovt yang itu menghabiskan banyak waktu dan energi. Bahkan suami saya sendiri juga suka mengingatkan saya kalau saya mulai hanyut dalam ovt yang lama.

Ovt memang bukan suatu hal yang normal, dan ada alasan kenapa ovt itu terjadi. Misalnya kalau orang depresi, biasanya ada masalah yang mendasari terjadinya depresi. Nah, apakah itu tidak membuatmu irritate ketika ada orang depresi dan ia membuat joke tentangnya?

Sama halnya tentang ovt. Pasti ada alasannya kenapa seseorang jadi ovt. Apakah ini tempatnya untuk menertawakan kekurangan orang yang ovt?

If you can’t stand it, you can leave it. You don’t have to make a comment or even joke about it.

Di dalam hati orang yang ovt, yang depresi, yang ansietas, itu ada keinginan untuk bisa menghilangkan hal-hal tersebut. Jadi, jangan kecilkan hati mereka dengan komen atau becandaan. Apalagi bilang, “Baper banget sih….”

No, we are not children yang masih bisa baperan.

Take home message

Ini sebenernya adalah media saya juga untuk berbenah diri. Karena saya percaya, ada aksi ada reaksi. Ketika seseorang berlaku sesuatu ke kita, itu adalah cerminan perilaku kita ke mereka.

Jadi, sebagai manusia dewasa, harus lebih hati-hati dalam bersikap. Orang dewasa persoalan hidup dan tanggungjawabnya lebih besar juga, jadi lebih mudah irritate.

Sekaligus ini membuat saya sadar kenapa semakin tua, sirkel kita akan semakin kecil. Mungkin karena semakin banyak masalah, tanggungjawab, membuat kita semakin gampang irritate. Gimana menghindarinya? Ya dengan meminimalisir kontak sosial.

Baca juga  Pertanyaan dari Suami Muallaf, yang Membuat Saya Tertegun

Ada yang punya pendapat lain?

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *