Teh hijau? Sering jalan jauh? Bekerja? Seafood? Apa saja kah yang teman-teman percayai sebagai rahasia umur panjang orang Jepang? Diluar hal-hal umum tersebut ternyata ada satu hal lagi yang menjadi rahasia umur panjang mereka. Apa itu?

Bekerja dan aktivitas fisik: rahasia umur panjang orang Jepang

Di Jepang, adalah hal yang wajar bertemu dengan kakek atau nenek usia 80-90an yang masih jalan ke sana kemari sendirian. Masih pergi hiking ke bukit-bukit, bahkan masih bekerja di tempat-tempat umum.

Nenek-kakek dari keluarga suami pun juga begitu. Baik dari ayah suami maupun ibu suami, semuanya masih hidup dan masih dalam keadaan yang relatif sehat padahal usianya sudah sangat lanjut.

Nenek dan kakek dari ayah suami sekarang usianya sudah menginjak 90-an. Walaupun nenek sekarang tinggal di panti jompo karena butuh perawatan ekstra, kakek yang tahun ini sudah 90 tahun masih tinggal sendiri di rumahnya.

Beliau masih bisa memasak, bersih-bersih, bahkan masih rajin pergi ke perkumpulan komunitasnya setiap hari dengan berjalan kaki.

Sementara nenek dan kakek dari ibu suami sekarang usianya 85 tahunan. Keduanya berprofesi sebagai hairdresser yang sampai sekarang masih bekerja melayani pelanggan. Maklum, salonnya ada di lantai satu rumah mereka, jadi bisa bekerja kapanpun mereka suka.

Sebenernya kakek-nenek suami ini semuanya sudah pensiun, sudah menerima hak uang pensiun, yang jumlahnya cukup untuk hidup mereka sendiri. Tidak bekerja pun mereka masih bisa hidup sejahtera. Tapi, mereka memilih untuk tetap bekerja.

Baca juga  Hakanai: Filosofi keindahan "sesaat" di Jepang

Bukan karena workaholic, rupanya melakukan aktivitas seperti bekerja membantu mereka untuk tetap aktif secara fisik dan juga membantu otak mereka untuk tetap “bekerja”. Sama halnya dengan kakek-kakek di Indonesia yang asik mengisi TTS. Kegiatan seperti itu ternyata menjaga mereka dari proses degeneratif.

Sama halnya kalau kita pergi ke panti jompo. Setiap siang, nenek dan kakek di panti jompo pasti didorong untuk melakukan aktifitas, entah itu senam, main catur, membaca, merajut, dan sebagaimacamnya. Tujuannya adalah untuk meningkatkan aktifitas fisik dan aktifitas otak, supaya proses degeneratif berjalan lebih lambat.

Have a Purpose: menjaga semangat untuk tetap aktif

Tapi, ternyata bekerja atau beraktifitas saja tidak cukup. Sebab sekedar melakukan pekerjaan atau aktifitas tanpa tujuan lama kelamaan akan membuat mereka bosan, dan akhirnya berhenti.

Kakek suami dari pihak ibu usianya “masih” 85 tahun, tapi beliau sudah sulit berjalan, berkali-kali harus operasi “ring” jantung, dan susah makan karena giginya sudah banyak tanggal. Sementara kakek dari pihak ayah yang umurnya sudah 90 tahun, justru lebih segar dan lebih sehat.

Jika diperhatikan, meskipun keduanya masih aktif bekerja, tapi ada perbedaan yang mendasar. Kakek 85 tahun sudah mulai kehilangan sense of purpose-nya 10 tahun belakangan ini. Dulu, dirinya berprinsip work hard play hard, tapi karena sekarang sudah tidak bisa seperti itu, kakek 85 tahun jadi kurang bersemangat dan jadi lebih sering berprinsip, “kalau aku mati sekarang, aku sudah siap”.

Sementara kakek 90 tahun punya sense of purpose yang tinggi. Kakek 90 tahun punya hobi membuat syair yang mendorongnya untuk berangkat ke komunitas menulis setiap hari. Bahkan dari kegiatan menulis syair itu, kakek 90 tahun pernah merilis lagu tradisional yang liriknya dia tulis sendiri. 2 tahun lalu ketika saya baru menikah, kakek bahkan menerbitkan buku syairnya sendiri.

Baca juga  5 saran dalam berumahtangga dengan orang asing

Dari kedua kakek itu, saya jadi sadar bahwa memiliki sense of purpose ini penting. Ketika kita merasa memiliki tujuan dalam hidup, kita jadi bersemangat untuk mengisi hari-hari kita dengan hal-hal yang bermanfaat, dengan karya-karya.

Semangat untuk terus menulis dan menghasilkan syair-syair lah yang membuat kakek 90 tahun bersemangat menjalani kehidupannya setiap hari. Yang kemudian mendorongnya untuk lebih aktif secara fisik maupun mental.

Sekarang, suami sedang mencoba mencarikan hobi baru untuk kakek 85 tahun, tujuannya cuma satu, supaya kakek memiliki sense of purpose yang lain, yang bikin beliau lebih semangat menjalani hari-hari.

Sense of purpose: dimulai dari hobi

Menurut suami, sense of purpose ini bisa dimunculkan dari kesukaan kita terhadap suatu aktivitas, dari hobi kita. Menurutnya, penting untuk kita punya hobi.

Ibu mertua saya adalah ibu rumah tangga, yang semenjak anaknya sudah besar dan tinggal terpisah, beliau jadi merasa semacam “nganggur”.

Pentas Tari Hula yang digeluti oleh Ibu Mertua. Tebak, yang mana ibu mertua saya?

Beliau pernah bekerja parttime sebagai perawat dokter gigi, karena beliau merasa punya banyak waktu yang kosong karena sudah tidak lagi merawat anak-anaknya yang sudah besar. Sayangnya pekerjaan itu tidak bertahan lama karena pandemi.

Untungnya, beliau punya hobi menari. Sekarang, mayoritas waktunya digunakan untuk berlatih menari, mengikuti kompetisi, bahkan mengajar. Hal ini menjadi sebuah sense of purpose bagi ibu mertua, menggantikan purpose-nya yang dulu, yaitu membesarkan anak-anaknya.

Suami saya percaya bahwa hobi menari yang sudah digeluti kurang lebih 20 tahun ini sangat positif buat ibunya. Instead of hanya dirumah saja nonton TV atau beres-beres, ibunya jadi punya kegiatan yang menjaganya aktif secara fisik maupun mental, seperti halnya kakek 90 tahun.

Baca juga  Pertanyaan dari Suami Muallaf, yang Membuat Saya Tertegun

Kesimpulan

Sekarang saya jadi paham kenapa banyak orang Jepang tetap bekerja meskipun sudah tua. Kadang bukan masalah finansial, tidak selalu budaya workaholic atau tuntutan sosial, tapi juga rasa ingin memiliki sense of purpose melalui pekerjaannya.

Sama halnya ketika ayah mertua saya bilang ingin bekerja sampai tua. Saya pikir karena workaholic, tapi kalau dipikir-pikir, mungkin bekerja adalah purpose-nya.

Sekarang saya jadi paham juga kenapa suami sangat suportif dengan kegiatan nano-nano saya yang ngeblogging-lah, nge-Youtube-lah, ternyata dia cuma pingin saya punya purposes yang membuat saya semangat menjalani kehidupan sehari-hari dan semangat menghadapi dunia kerja yang kadang kejam di mata saya (dan tidak selalu sejalan dengan tujuan hidup saya).

Rahasia umur panjang orang Jepang ternyata bukan soal makanan dan kebiasaan saja, tapi juga soal aktivitas hidup dan mewarnai kehidupan dengan suatu tujuan hidup.

So, have you found your purpose in life?

Share this post

2 comments

  1. Aku setuju banget sih, kita memang harus punya purpose dalam hidup. Dengan purpose yang mau kita lakukan, sel-sel tubuh kita pun akan terus mendukung hal itu. Thanks ka sudah sharing! Salam kenal yaa 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.