Belakangan ini sangat santer pemberitaan tentang program vaksin HPV (Human Papilloma Virus) untuk mencegah kanker serviks atau kanker leher rahim yang dicanangkan oleh Menteri Kesehatan (Menkes).

Namun, ternyata banyak terjadi polemik, termasuk penolakan terhadap vaksin ini. Padahal, perempuan seharusnya bahagia dengan adanya program ini. Kenapa? Biar saya ceritakan sedikit.

Apa itu Kanker Serviks?

Kanker serviks adalah sebuah keganasan yang terjadi pada organ serviks atau leher rahim. Leher rahim merupakan pintu masuk dari rahim perempuan, letaknya 1/3 bagian bawah rahim.

Menurut data yang dirilis oleh Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementrian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2019, kanker serviks merupakan kanker terbanyak kedua pada wanita, setelah kanker payudara.

Menurut Kemenkes, saat ini setidaknya ada 40.000 kasus baru kanker serviks per tahunnya, yang itu jumlahnya sangat banyak! Dan ini bisa terjadi pada wanita usia produktif, mulai dari usia 30-50 tahun. Scary, right?

Apakah kanker serviks mengerikan?

Ya, sama dengan kanker lain, saat ini belum ada terapi yang benar-benar 100% efektif untuk menyembuhkan kanker serviks.

Selain itu, dengan perjalanan penyakitnya, apabila tidak diberikan penanganan yang tepat, kanker serviks bisa menyebar ke organ lain di dalam tubuh seperti paru-paru, liver, yang kemudian akan membuat gejala makin parah dan memperburuk kualitas hidup seseorang.

ilustrasi dari alodokter.com

Lebih mengerikannya, sama dengan kanker lain, umumnya kanker serviks tidak bergejala. Kebanyakan kasus ditemukan karena adanya screening. Jika sudah bergejala, biasanya sudah masuk ke stadium yang lebih lanjut, yang mana akan menurunkan peluang untuk survive.

Masih merasa tidak menakutkan?

Baca juga  Berendam Air Panas! Rahasia Menghilangkan Lelah di Otot ala Orang Jepang

Penanganan kanker serviks: panjang, menyakitkan, dan memakan banyak biaya

Pada kasus kanker serviks stadium lanjut, maka penanganannya tidak hanya tindakan invasif seperti operasi saja. Kadang harus dikombinasi dengan terapi lain seperti kemoterapi.

Bagi yang tidak pernah mengetahui apa kemoterapi itu, mungkin tidak bisa membayangkan repotnya menjalani kemoterapi. Sebab kemoterapi dilakukan dengan memberikan obat melalui infus yang dipasang selama beberapa jam. Dan itu harus dilakukan beberapa kali dalam sebulan, dan tidak cuma 1-2 bulan saja.

Kebayang kan gimana repotnya harus bolak-balik ke RS untuk kemoterapi selama beberapa bulan? Apalagi jika kita tinggal berjauhan dengan RS yang memiliki layanan kemoterapi. Pasti akan sangat repot.

Belum lagi efek samping obat-obatan kemoterapi yang membuat penderitanya mual dan muntah, sehingga kualitas nutrisi juga terganggu.

Selain itu, biaya kemoterapi ini sebenarnya sangat tinggi. Namun kita beruntung karena biaya perawatan kanker serviks ini ditanggung BPJS. Ngga kebayang tanpa asuransi/BPJS, berapa biaya yang bakal dihabiskan. Coba deh tanya ke farmasi atau apotek berapa harga obat kemoterapi. Mending buat healing-healing lah….

Untungnya, kita tahu penyebab kanker serviks

Menurut laporan WHO, 95% kasus kanker serviks di dunia disebabkan oleh HPV. Infeksi virus HPV ini dapat terjadi kapanpun setelah seorang wanita aktif secara seksual, dan kemungkinan dapat terjadi berulang tanpa disadari.

Selain infeksi virus, beberapa faktor seperti aktivitas seksual di usia muda, berhubungan dengan banyak partner, merokok, melahirkan berulang, penyakit menular seksual, dan tingkat sosial ekonomi yang rendah menjadi faktor resiko pendukung terjadinya kanker serviks.

Dengan mengetahui penyebab paling banyak dan mengetahui perjalanan penyakitnya, kita bisa melakukan pencegahan, salah satunya dengan vaksin HPV dan screening berkala.

Baca juga  Mengulik Penelitian Terapi Brainwash

Program vaksin HPV: Harapan baru menurunkan kasus kanker serviks

Sebenernya vaksin HPV ini bukan vaksin kemaren sore. Uda lama banget ada. Saya sendiri sudah sejak lama pingin di vaksin ini. Apalagi di keluarga saya ada riwayat kanker serviks. Sayangnya, vaksin HPV ini tidak murah.

Dan ini ngga cuma di Indonesia. Vaksin HPV di Jepang juga berbayar, dan itu tidak murah. Hal ini yang bikin saya belum juga mendapatkan vaksin meskipun asuransi di Jepang dulu lumayan oke.

Sekarang, Kemenkes akan mencanangkan program vaksin HPV ini secara gratis. Kalau saya, sudah pasti saya bahagia banget! Gimana nggak, saya dikasih peluang untuk mencegah suatu penyakit yang panjang durasinya, menyakitkan, dan mahal biaya perawatannya, udah gitu di kasih gratis!

Apalagi khasiat dari vaksin ini sudah lebih dulu diteliti di Amerika, dimana dalam 10 tahun setelah program vaksinasi HPV mereka dimulai pada tahun 2006, kejadian infeksi HPV menurun drastis hingga 71-86%.

Pada studi tahun 2006-2017, vaksinasi ini diketahui dapat mencegah hingga 90% kasus kanker serviks jika diberikan pada anak-anak perempuan usia dibawah 17 tahun. Yang ini menjadi dasar bagi pak Menkes kita untuk membuatkan program ini untuk anak perempuan kelas 5-6 SD.

Program Vaksin HPV dan tudingan miring ke Kemenkes

Yang saya sedih adalah masih banyak orang yang melihat program vaksin HPV ini seperti suatu propaganda “dagang vaksin” seperti yang terjadi pada kasus COVID-19. Padahal vaksin ini sudah jelas bermanfaat. Tudingan tentang efek samping vaksin ini juga tidak terbukti secara ilmiah.

Ada yang bilang program vaksin HPV ini mahal dan bikin negara sampai berhutang. Padahal kalau diitung lagi, bisa jadi pembiayaan BPJS untuk penanganan kanker serviks itu jauuuuuuuhhhhhh lebih mahal. Negara justru bisa lebih hemat dalam jangka panjang. Ingat, mencegah itu selalu lebih murah dari pada mengobati.

Baca juga  Mengulik Penelitian Terapi Brainwash

Ada yang bilang kalau anak-anak ngga perlu di vaksin karena mereka belum aktif secara seksual. Padahal memang tujuan pemberian vaksin ini pada usia sebelum aktif secara seksual, supaya NANTINYA dia bisa terhindar sebelum aktif secara seksual. Karena sumber penularannya bisa dari siapapun, termasuk dari hubungan seksual dalam pernikahan.

Sementara untuk wanita yang sudah menikah, apabila ingin divaksin HPV, maka harus dilakukan screening melalui pap smear terlebih dahulu. Untuk memastikan belum ada infeksi HPV sebelumnya. Karena vaksinnya tidak bermanfaat kalau sudah ada infeksi. Namanya juga pencegahan, kan?

Kesimpulan

Menurut pandangan saya, penyakit kanker serviks ini adalah penyakit yang berat dengan konsekuensi jangka panjang yang lebih berat lagi. Mulai dari konsekuensi mental, fisik, dan finansial juga.

Belum lagi penyakitnya yang sulit dideteksi karena tidak bergejala, sulit untuk diterapi, dan angka kematian yang tinggi. Hal ini menjadikan tindakan pencegahan apapun menjadi sangat bermanfaat, termasuk vaksin.

Pemerintah sudah mencanangkan program vaksinasi HPV sesuai dengan kaidah ilmiah yang sahih, jadi seharusnya tidak perlu dipertanyakan lagi.

Kalau saya, saya akan menyambut gembira program bermanfaat ini. Bagaimana dengan teman-teman?

Share this post

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.