Selama menjalani S3 di Jepang, ada beberapa software penting yang bermanfaat banget untuk mengolah data hingga mempublikasikan data tersebut. Dan nggak mesti yang canggih-canggih banget tenyata.

Ada software basic yang ternyata kepake banget. Dan ada juga software yang ternyata mempermudah pengolahan data. Jadi, apa saja itu?

Disclaimer: topik ini mungkin cocok untuk yang mengambil topik riset basic natural science untuk topik S3-nya dan mungkin berbeda untuk topik riset lain.

Graphpad Prism

What can I do without you, dear Graphpad?
Karena tugas utama sebagai mahasiswa S3 adalah untuk analisis data, tentu kita perlu software untuk analisis data dengan mudah dan praktis, biar ngga judeg karena tiap hari analisis data.

Yang saya suka dari Graphpad adalah user interface-nya yang praktis dan membantu saya yang ngga seberapa canggih soal analisis data.

Sebelum kita mulai menganalisis data, software ini sudah membantu kita mengarahkan ke jenis analisis yang sesuai dengan penelitian kita, apakah itu grouped analysis, survival analysis, hingga nested analysis.

tampilan awal Graphpad
tampilan analisis-nya

Ketika kita memilih opsi analisis, kita juga akan dibantu untuk memilih jenis analisis yang tepat, sesuai dengan desain penelitian yang kita lakukan.

Yang paling saya sukai adalah kita bisa dengan mudah membuat grafik untuk data yang kita analisis. Fitur grafik yang ada juga memudahkan kita untuk menentukan jenis grafik, merubah warna, icon, memberikan teks atau penanda pada grafik yang kita buat. Cukup drag&click.

Dan untuk memindahkan grafik ke dalam Powerpoint atau ke dalam software lain juga dapat dilakukan dengan mudah, semudah copy-paste gambar pada umumnya. Praktis kan?

Baca juga  Mengulik Penelitian Terapi Brainwash

Pokoknya, setelah selesai eksperimen dan dapat data, biasanya saya langsung memasukkan ke dalam Graphpad, supaya bisa segera diolah, dianalisis, sampai jadi sebuah grafik yang representatif terhadap data kita.

Jadi lebih mudah untuk mencerna hasil eksperimen kita dengan segera dan dengan praktis melalui visual. Dan ini akan mempermudah kita untuk melaporkan ke supervisor.

Kalau menurut saya, software ini lebih mudah dan praktis digunakan ketimbang SPSS.

Microsoft Powerpoint

Selama S3 ini ternyata saya banyak sekali menyimpan file-file Powerpoint (PPT). Ngga cuma file presentasi aja, tapi data-data dan perjalanan riset juga saya tuang dalam PPT bak diary.

Ada beberapa manfaat dari Powerpoint yang menurut saya membantu bingit:

Membuat presentasi

Kalo ini ya jelas lah ya. Karena saya lebih fasih pake PPT, jadi saya prefer untuk tetap di Powerpoint ketimbang pake Keynote dari Apple. Powerpoint sudah cukup menurut saya, karena kita ga butuh animasi atau tampilan yang “wah” untuk presentasi ilmiah.

Menyimpan data dari waktu ke waktu

Setiap kali selesai eksperimen, saya langsung menyimpan datanya di PPT. Ini mempermudah data untuk segera di-display ketika diskusi dengan supervisor atau ketika presentasi progress report di depan seisi lab.

Selain itu, kebiasaan saya menyimpan data di PPT sesuai dengan sequence waktu, atau sesuai dengan perjalanan riset, dengan pertanyaan penelitian/hipotesa, memudahkan saya untuk membuat kerangka diskusi dalam penulisan manuskrip nantinya.

Biasanya ketika saya memiliki hipotesa, maka akan saya jadikan judul sub-bab dalam PPT. Kemudian data-data untuk menjawab hipotesa tersebut saya susun dibelakangnya. Terakhir, saya beri summary.

Nantinya, saya bisa dengan mudah me-review apa saja yang sudah saya lakukan, bagaimana kesimpulannya, dan seperti apa rencana ke depan-nya. Kebayang ngga?

Ya ngga mesti pake PPT sih, tapi menurut saya ini jadi lebih praktis ketika akan menyusun presentasi nantinya. Tinggal copy-copy aja slidenya dan disusun sesuai sequence atau sesuai alur cerita dalam menjawab hipotesa kita.

Baca juga  Melano CC: Serum Vitamin C dari Jepang untuk Jerawatmu

Membuat figure manuskrip

PPT jaman sekarang udah mirip-mirip aplikasi drawing gitu. Kita bisa menyusun gambar di halaman presentasinya, dan meng-eksport-nya ke dalam bentuk .jpg, .png, .pdf, dan lain sebagainya, sesuai kebutuhan.

Untuk beberapa jurnal yang terlalu ribet soal kualitas gambar, exporting dengan ppt sudah sangat membantu. Walaupun beberapa jurnal Q1 ngga mau pake cara ini.

Selain itu, menyusun data/gambar di PPT juga mempermudah untuk kita print dan kita tempel di logbook penelitian kita.

Membuat desain poster

Buat saya yang sewaktu S3 ngga fasih-fasih amat perihal desain, menggunakan PPT untuk membuat desain poster ketika akan presentasi sangat amat membantu.

Apalagi PPT sudah punya template untuk mendesain poster sederhana. Lagipula kita ngga perlu membuat poster yang terlalu sophisticated, jadi features sederhana yang ditawarkan di PPT untuk membuat visual yang bagus sudah cukup untuk saya.

ImageJ/FIJI

Ini software yang bermanfaat banget untuk kuantifikasi data-data gambar atau imaging. Mulai dari kuantifikasi protein hasil western blotting, hasil pewarnaan/staining, sampe ke beberapa experiment in vitro.

Software ini simpel dan sederhana, tapi jenis analisis yang bisa dilakukan ada banyak banget. Dan karena software ini sudah umum dipake khalayak scientist, ngga sulit buat kita menemukan protokol untuk melakukan kuantifikasi/analisis tertentu.

User interface-nya juga cukup sederhana, sehingga mudah untuk dipakai oleh orang yang ngga terlalu canggih juga seperti saya hehehe. Dan yang terpenting, downloadnya GRATIS!

Dalam pengalaman pada manuskrip saya, kuantifikasi protein western blot, kuantifikasi pewarnaan immunohistochemistry, kuantifikasi in-vitro assay semuanya saya lakukan dengan ImageJ.

Dan, kalau ada analisis yang ingin kita lakukan tapi belum tersedia di ImageJ, kita bisa search plugins-nya (kalau tersedia) dan download plugins-nya secara gratis!

Baca juga  Tipe Wanita yang Disukai Orang Jepang

Dan plugins ini terus diupdate oleh para periset di seluruh dunia. Helpful, kan?

Microsoft Excel

Mana lagi software yang paling mudah untuk menyimpan data-data kalkulasi dan angka-angka?

Apalagi kalau kita menguasai fungsi-fungsi dan rumus-rumus di Excel, menyimpan dan mengolah data di Excel akan sangat amat membantu, sebelum kita masukkan ke software analisis macam Graphpad.

Honorable Mention

Selain ke-empat software bermanfaat, ada beberapa software yang ngga teramat sangat bermanfaat dan tidak bisa lepas dari kehidupan nge-lab

Microsoft words

Manuskrip, proposal, disertasi, semua syarat-syarat kelulusan, tentu saja semuanya diolah dengan Microsoft Words! Tentu saja software ini penting!

Mendeley

Menulis manuskrip dengan referensi yang sebaje jidat tentu saja tidak menyenangkan tanpa bantuan software gratis yang mudah digunakan dan sangat rapih dalam mengendalikan referensi ini. Ketimbang bayar mahal untuk software serupa, mending pake yang gratis aja kayak gini!

Adobe Illustrator

Kebetulan jurnal tempat saya submit ngga mengijinkan menyusun gambar menggunakan PPT karena akan menurunkan kualitas gambar, saat itulah Adobe Illustrator to the rescue!

R Studio

Saya sendiri masih belajar tentang coding dengan R. Tapi saya sudah banyak melihat para peneliti menggunakan R Studio untuk membuat visualisasi data mereka. Dan karena kemampuan dari bahasa R untuk mengolah data, di masa depan mungkin R studio akan lebih kece daripada Graphpad.

Kesimpulan

Jadi kalau melihat file-file jaman S3 isinya terbanyak adalah file Words (ya jelas lah ya), file Excel, file Powerpoint, dan file Graphpad.

Selain software-software ini, masih ada beberapa software terkait dengan mesin yang digunakan. Tetapi, untuk mengolah data hingga menjadi manuskrip, menurut saya software-software ini sudah cukup banget.

Apakah sudah cukup mencerahkan?
Kalau ada yang mau menambahkan, silahkan bisa sharing di kolom komentar!

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published.