Demam K-Pop ngga hanya mengguncang Indonesia. Tetangganya Korea, Jepang, yang dulu terkenal cukup tertutup dan punya sistem “idol”-nya sendiri, lambat laun muda-mudinya mulai tertarik ikut terjun ke sistem “idol” ala K-Pop melalui agensi idol Korea ternama. Awalnya, saya pikir audisi idol seperti itu tuh bener-bener seperti “penemuan” anak “berbakat” melalui audisi. Nyatanya, di Jepang, itu bukan soal bakat, tapi soal kemauan dan kerja keras. Akibatnya, audisi dan sekolah “per-idol-an” sekarang jadi ladang bisnis karena tingginya demand dan ambisi untuk debut ala K-Pop Idol.
Dari yang ngga percaya, ternyata saya akhirnya melihat sendiri bagaimana industri sekolah dance dan industri idol di kota kecil bekerja, setelah saya sempat join salah satu sekolah dance khusus debut idol ala K-Pop idol di kota Kobe.
Table of Contents
Sedikit Background Cerita
Pada dasarnya saya memang suka nge-dance, dan kalau udah mengikuti blog saya dari jaman rumahindik.blogspot.com pasti sudah tahu sepak terjang saya di dunia K-pop dance cover. Sebenernya, sejak pindah ke Jepang untuk S3, saya berhenti nge-dance. Karena, di Jepang ngedance itu mahal (kita ngga bisa sembarangan ngedance di rumah karena berisik, padahal kalau sewa studio atau ikut kelas, harganya mahal!)
Tapi, semenjak lulus PhD, saya memutuskan untuk kembali “olahraga” lewat dance karena mendapati hasil pemeriksaan medical checkup saya kurang bagus. Awalnya, suami ngajakin untuk nge-gym bareng, tapi berhubung saya orangnya bosenan, jadinya saya pilih ikut sekolah dance, karena saya yakin saya ngga akan pernah bosen nge-dance (buktinya saya bisa tahan nge-dance bertahun-tahun dari SMA).
Apalagi, seorang temen pernah cerita tentang sebuah sekolah dance yang punya kelas K-Pop di kota Kobe, tempat saya tinggal, yang bikin saya penasaran. Sejauh yang saya tahu, kala itu belum umum sekolah dance yang punya kelas khusus K-Pop. Because I have a very long history with K-Pop dance cover, I decided to take a look at the studio.
K-Pop Dance Studio: Sekolah untuk Calon Idol
Letaknya ada di pusat kota Kobe, sekitar 5-10 menit jalan dari stasiun Sannomiya. Studio dance ini terbilang kecil, dan hanya punya satu ruang studio yang letaknya di basement sebuah gedung serbaguna (kantor). Begitu masuk ke dalam studio, berganti sandal, kita langsung disambut meja resepsionis dan studio yang terbuka. Ketika saya pertama ke sana, saya ditemani suami, karena saya khawatir dengan bahasa Jepang saya yang setengah-setengah.
Kesan pertama yang terbersit di kepala saya adalah MENYEBALKAN. Karena saya disambut seorang laki-laki berwajah bukan Jepang, berambut gondrong, yang sama sekali tidak ramah. Laki-laki itu kemudian menyuruh seorang staf perempuan, ibu-ibu, untuk menyambut kami. Usut punya usut, ternyata si laki-laki yang pertama menyambut itu seorang laki-laki berdarah Korea (tapi berbahasa Jepang ya) yang merupakan owner dari studio dance tersebut, dan ibu-ibu ini adalah staf yang belakangan saya dengar masih keluarga dengan si owner (sama-sama orang Korea).
Hari itu sedang ada kelas yang berlangsung. Isinya anak-anak umur SD, ada sekitar 4-5 orang dengan 1 orang guru (sensei) dance perempuan muda. Suami langsung ngobrol dengan si ibu staf yang menyambut kami dan mengutarakan maksud kedatangan saya. Eh, sama si owner, kami malah “diusir” karena menurut dia kami berisik (padahal suara musik dancenya lebih keras) dan disuruh ngobrol di sebuah ruang kecil yang tersembunyi di sudut studio tersebut.
Akhirnya, kami mengobrol dengan si ibu di dalam. Si Ibu ini sangat ramah, kebalikan sama mas-mas owner tadi. Tapi, si ibu ini kaget dengan kedatangan saya, karena saya satu-satunya orang asing, yang sudah berumur, yang tertarik dengan sekolah dance mereka. Awalnya si Ibu ini bingung mau menawari saya kelas yang mana, karena rata-rata kelas mereka isinya anak SD-SMA. Kelas merekaterbagi menjadi dua tipe kelas saja, kelas hobby dan kelas serius untuk anak-anak yang memang berniat untuk debut di agensi idol (biasanya kelas-nya lebih intensive, gurunya lebih strict, trus ada tambahan kelas vokal dan kelas bahasa korea, dan harganya lebih mahal). Untuk kelas hobby, sebenernya range usia-nya bisa sampe usia dewasa. Tapi, sejauh mereka berbisnis, belum ada tante-tante paruh baya macam saya yang instead of nganterin anak daftar kelas, malah dirinya sendiri yang daftar. Biasanya usia dewasa yang dimaksud di kelas ini adalah usia kuliahan.
Akhirnya saya memilih masuk kelas hobby di akhir pekan. Si ibu itu bilang kalau di kelas itu mungkin ada peserta yang lebih tua usianya. Jadilah saya mengisi formulir dan memberikan kontak line untuk komunikasi.
Pengalaman Ikut Trial Class di Kelas Hobby
Seminggu berselang, saya akhirnya mendapat info kalau mereka akan buka trial class khusus baru untuk kelas hobby dengan target usia dewasa (diatas usia SMA). Untuk kelas khusus yang baru ini mereka menyewa sebuah ruang studio tari terbuka di gedung serbaguna, 100ban Hall (masih di seputaran Sannomiya), sekitar 5 menit jalan dari studio pusat mereka. Mereka juga meng-hire seorang guru dance baru untuk mengajar kelas dewasa tersebut.
Waktu pertama kali saya datang, hanya ada guru tersebut dan 2 orang lagi, yang sepertinya usia kuliah. Saya yang ditemani suami agak canggung juga, karena saya kayak dianter bapak, sementara temen-temen lainnya datang sendiri wkwkwk. Sewaktu saya daftar, saya diminta menyetor lagu apa yang ingin saya pelajari, dan ternyata di trial class, lagu itulah yang dieksekusi sama sang guru, Feel Special dari Twice. Seneng banget rasanya.

Pengalaman trial class cukup menyenangkan menurut saya. Gurunya enak, namanya Nao-sensei. Gurunya ini masih sangat muda (mungkin belasan tahun lebih muda dari saya). Awalnya guru ini sungkan mengajar saya karena tahu usia saya jauh lebih tua dibanding murid-murid lainnya, dan saya tidak terlalu lancar bahasa Jepang. Tapi, setelah melihat bahwa saya mampu mengikuti kelas tanpa kendala bahasa, sang guru jadi lebih santai (ngga terlalu susah ternyata mengikuti instruksi gerakan dalam bahasa Jepang). Teman-teman yang lainnya pun juga bukan bocil-bocil, jadi saya lebih nyaman juga. Karena suasana kelas yang enak dan waktu kelasnya sangat pas (Sabtu malam jam7-8.30). Jadilah akhirnya saya memantabkan diri untuk daftar sebagai member.
Kelas Kelas Idol Preparation
Setelah resmi menjadi member dan gabung dengan grup LINE-nya, saya baru tahu kalau ternyata, antara kelas hobby dengan kelas “sungguhan” ini treatment-nya beda sekali. Untuk si kelas “sungguhan”, selain ada kelas bahasa korea dan kelas menyanyi, mereka juga dijadwalkan untuk ikut audisi di agensi-agensi K-Pop besar seperti YG, SM, JYP, Pledis, Hybe, yang ternyata setiap semester itu membuka audisi di Jepang.
Untuk memfasilitasi anak-anak ambis ini, sekolah dance kadang membuka kelas tambahan untuk anak-anak yang ingin latihan lebih sebelum mengikuti audisi (tentu dengan biaya lebih). Termasuk latihan dance dan vokal secara private dengan gurunya. Dan untuk persiapan audisi, biasanya anak-anak sekolah dance tersebut dilatih oleh guru yang berkebangsaan Korea.
Saya pun baru tahu bahwa sistem audisi idol K-Pop di Jepang itu beragam banget. Ada audisi offline yang langsung diselenggarakan oleh agensi-agensi idol besar tersebut di Jepang, ada juga audisi secara online. Audisi secara online ini hampir setiap 6 bulan ada. Biasanya, di sekolah dance ini, anak-anak di audisi dulu secara internal, baru setelah itu mereka didaftarkan untuk mengikuti audisi baik offline maupun online.
Ternyata, untuk merekrut idol dari Jepang, agensi K-Pop menggunakan strategi ini, dimana mereka akan membuka audisi online secara berkala ke sekolah-sekolah dance khusus K-Pop (seperti sekolah dance saya ini) di Jepang, dan orang-orang yang lulus audisi online ini, nanti akan diikutkan untuk audisi live di tingkat regional Jepang. Kalau mereka lulus, mereka akan diterbangkan ke Korea untuk menjadi trainee.
Saya pikir bisnis per-idol K-pop ini musiman, ternyata bisnis sekolah idol K-Pop ini makin lama makin maju. Bahkan sekolah dance saya akhirnya membuka 1 kelas untuk kelas idol lagi yang jadwalnya tepat sebelum jadwal kelas saya. Isinya anak-anak muda ambisius, yang setiap latihan diantar oleh ibu-ibunya yang ngga kalah ambisius (sering ketemu pas pergantian kelas). Dalam setahun saya bergabung, sekolah dance ini ngga cuma punya banyak murid, tapi mereka juga sudah membuka 3 cabang baru, di Osaka, di Fukuoka dan di Nagoya. Cuan banget kan?
Walaupun anggota sekolah dance saya belum ada yang debut sebagai idol K-Pop waktu itu, tapi salah satu anggotanya ada yang sudah masuk ke survival program di Jepang yang disiarkan di TV. Beberapa anggota muda juga ada yang sudah berangkat ke Korea untuk menjadi trainee di agensi besar. Sekarang, ternyata sudah banyak anggota sekolah dance ini yang debut di grup seperti ME:I, Triple S, dan banyak yang sudah masuk ke survival program Korea.
Sayangnya, saya ngga bisa nyicipin kelas persiapan menjadi idol, karena ada batas usianya. Lalu, bagaimana dengan kelas hobby yang saya ikuti?
Bagaimana Rasanya Menjadi Murid di Sekolah Dance K-Pop di Jepang?
Saya ikut sekolah dance ini kurang lebih selama 1 tahun. Dan banyak pengalaman yang menarik yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Mulai dari jadi murid paling tua, sampai akhirnya ada yang lebih tua lagi dari saya! Dari yang tadinya meriah, sampai sepi peserta juga pernah.
Karena kelas saya ini sifatnya kelas hobby, jadi peserta kelas-nya juga datang dan pergi. Maksudnya, mereka bukan orang yang bener-bener committed to dance kayak anak-anak di kelas idol. Mereka ikut kelas ini benar-benar cuma “sekedar hobby” aja, sekedar selingan kalau mereka pas ada waktu luang, sekaligus olahraga atau cari keringet. Percaya ngga percaya, selama setahun saya di sekolah dance itu, tidak ada peserta yang durasi bertahannya lebih lama dari saya. Rata-rata hanya bertahan beberapa bulan saja di kelas kami (tapi bukan karena gurunya galak atau kelasnya ga enak ya).
Peserta kelas hobby ini diverse sekali. Selain saya, ada 2 orang tante-tante umur 40an yang juga ikut kelas ini setelah saya. Dua tante-tante ini yang paling ramah dan suka mencairkan suasana. Saya pun lumayan akrab dengan dua tante ini karena kami sama-sama “orang lama” di kelas tersebut. Kami sering ngobrol sampe-sampe gurunya hapal bahwa salah satu dari tante ini ternyata ngefans sama NCT dan bias-nya sama dengan guru kami.
Di kelas kami juga sempat ada orang asing lain, seorang mahasiswa S2 dari China. Orangnya rajin latian walaupun kemampuannya tidak seberapa. Sayangnya dia berhenti datang ke kelas setelah sekitar 3 bulan. Ada juga kakak adik anak SMP yang selalu diantar ibunya. Biasanya mereka ikut latihan kalau pas lagi senggang di sekolah, tapi kalau pas musim ujian pasti libur. Kakak beradik ini yang menyadarkan saya kalau Wonyoung dari grup IVE itu terkenal banget di kalangan anak sekolah dan semacam jadi role model sekaligus beauty standard buat mereka.
Mereka yang saya sebut adalah yang paling lama di kelas. Sisanya masih ada lagi tapi mereka bener-bener datang dan pergi. Belum sempat hapal namanya dan berinteraksi, sudah ngga datang lagi. Ada seorang mahasiswa Jepang yang saya sempet deket dan sering pulang bareng saya, sayangnya mahasiswa tersebut cuma bertahan selama 2 bulanan saja, dan ga pernah join lagi.
Selama 1 tahun itu ada banyak lagu yang kami pelajari. Mulai dari lagu-lagu ngehits jaman itu seperti Shut Down (Black Pink), Moonlight Sunlight (Twice), I am (IVE), sampe lagu dari girlgroup lama seperti Feel Special (Twice), When I move (Kara) atau Adios (Everglow).
Biaya dan sistem latihan di sekolah dance
Saya sendiri agak-agak lupa, tapi kelas trial ini biasanya gratis atau setengah harga normal. Dulu, setiap orang boleh mencoba 1-2 kelas tanpa membayar. Kalau kita udah mantab dan mau mendaftar jadi member, kita bisa mulai mendaftar dengan membayar sekitar 5000 yen kalau ngga salah.
Untuk biaya kelasnya sendiri menggunakan sistem tiket. Kita membayar 9000 yen untuk 4 tiket (4 kali pertemuan) dan hanya berlaku dalam kurun 5 minggu (jadi ada slot 1x bolos). Kalau kita cuma datang 2x dalam kurun 5 minggu, ya sisa 2 tiketnya jadi invalid. Intinya, rugi banget kalo ngga rajin dateng.
Setiap pertemuan durasinya sekitar 80 menit (19.20-20.40). Biasanya 15 menit pertama diisi dengan pemanasan (yang itu udah bikin ngos-ngosan). Baru dilanjut dengan koreografi. Biasanya untuk 1 lagu, diselesaikan dalam 5x pertemuan, dan ini ngga selalu satu lagu full, kadang cuma intro-verse-reff-ending, tapi kadang juga full. Jadi setiap 4-5 minggu sekali akan ada pengumuman lagu yang akan dikerjakan di kelas masing-masing.
Lagu ini yang milih gurunya. Tapi, kalau gurunya lagi uninspired, anggota kelas boleh request mau lagu apa berikutnya. Dulu kelas saya pernah belajar lagu Seven-Jungkook karena salah satu tante-tante itu ada yang ngefans banget, dan pernah belajar lagu IVE yang I am karena ada fans-nya Wonyoung (si anak SMP itu).
Menurut saya worth the time banget ikut kelas ini. Karena kelasnya on-time sekali. Kalau sudah jam 19.20, ya langsung mulai. Kalau sudah jam pulang, ga peduli koreo hari itu selesai atau ngga, ya pasti dibubarkan. Sebelum mulai, selalu ada pemanasan yang proper dengan sequence yang sama setiap awal pertemuan, dan ini pemanasannya mirip-mirip sama di studio dance lain di Jepang (karena saya ikut 2 sekolah dance yang berbeda saat itu).
Kenapa Berhenti…?
Kalau ngga salah saya berhenti setelah sekitar 13 bulan join sekolah dance tersebut. Overall, pengalamannya menyenangkan, saya jadi punya kenalan orang Jepang, saya jadi ngerti pola pikir dan trend mereka, saya jadi punya kegiatan olahraga tiap minggu, saya sendiri pun happy. Tapi memang ada beberapa hal yang bikin saya memilih berhenti (dan join sekolah dance lain).
Yang pertama adalah perbedaan goal dan sense of achievement. Seperti yang saya bilang tadi, kebanyakan anggota kelas ini hanya menganggap kelas ini sebagai selingan, sebagai hobby. Awalnya, saya pun begitu. Tapi, lambat laun saya jadi ingin punya sense of achievement. Saya ingin meraih sesuatu dari kelas ini, selain keringat dan kenalan.
Di sekolah dance, dan di semua sekolah dance di Jepang, tiap 6 bulan sekali selalu ada yang namanya pentas bersama. Pentas ini adalah ajang showcase kemampuan mereka. Semua kelas, terutama kelas persiapan idol, pasti ikut join. Sementara kelas hobby yang berisi ibu-ibu ini, ngga pernah mau join. Karena 2 tante-tante itu ngga pingin ditonton, sementara yang anak SMP malu-malu kucing, dan sisa anggota kelas jarang latihan. Yang pingin join siapa? Ya hanya saya. Biar ada rasa pernah meraih suatu goal gitu. Jadi ngga cuma latihan dance aja tapi ngga ada “hasilnya”.
Sebenernya ngga harus tampil di panggung juga. Kadang saya cuma pingin buat video dance sama-sama sekelas setiap selesai menyelesaikan koreografi satu lagu. Tapi, seperti biasa, tante-tante enggan masuk video, anak SMP malu-malu mau, akhirnya cuma saya doank yang mau. Sebenernya tiap minggu, tiap latihan, kelas kami selalu bikin video untuk di review dan buat latian di rumah (di-share di grup LINE). Tapi biasanya yang in-frame cuma saya dan gurunya. Karena yang lain ngga mau masuk video dan merasa yang paling jago cuma gurunya dan saya. Tetep aja ngga dapet sense of achievement-nya. Mana videonya ngga boleh di share di mana-mana, jadinya ya cuma jadi kenangan di kepala aja.
Yang kedua adalah karena jarak dan waktu. Memilih kelas akhir pekan memang pilihan sendiri, tapi makin kesini makin kerasa sayang banget malem mingguan malah ngedance. Kadang temen-temen ngajakin keluar malem minggu, tapi saya selalu nolak karena ada kelas ini. Ngedate sama suami juga jadi sulit, karena weekend pasti ngedance. Apalagi kelas dance ini sebenernya itungannya “jauh” dari rumah saya, jadi butuh tenaga, uang, dan kemauan setiap weekend, yang itu tidak selalu saya miliki.
Yang ketiga karena owner-nya wkwkwk. Dari awal emang uda ngga suka soalnya, jadinya susah hehehe. Kadang dari celotehan para staf atau teman sekelas saya jadi merasa bahwa kelas hobby ini cuma jadi kelas “sampingan” yang ngga dipedulikan sama owner-nya. Kelas kami selalu jadi yang terakhir ditawari kalau ada event-event. Bahkan sering kelewatan info juga karena jadi “anak tiri”. Berhubung diawal ketemu saya sebenernya juga uda ngga sreg, jadinya saya juga enggan berlama-lama mengisi kantong si owner padahal owner tidak menganggap kelas hobby ibu-ibu ini “hidup”.
Selain ketiga alasan itu, sebenernya sekolah ini oke-oke aja. Ibu-ibu staf dan staf-staf muda lain yang menggantikan ibu-ibu itu sebenernya ramah dan baik-baik (bahkan terhadap saya yang tua dan notabene orang asing). Nao-sensei juga orangnya asik, walaupun sebenernya dia itu cool (bukan tipe orang yg rame) dan kayanya sungkan sama saya wkwk. Buat yang mengejar karir idol juga sebenernya cukup mumpuni dan “dekat” dengan agensi Korea. Saya sih ngga nyesel pernah nge-dance di sana. Cuma ngga pingin memperpanjang durasi di sana aja.
Akhirnya saya memutuskan untuk bergabung di sekolah dance yang lain. Sekolah dance saya yang kedua ini beda banget dari sekolah dance yang pertama. Karena yang kedua ini bener-bener pure Jepang, sistemnya kekeluargaan, dan bener-bener bikin saya belajar banyak tentang Jepang, walaupun mereka menyediakan kelas K-Pop juga.
Ada yang tertarik denger cerita tentang sekolah dance kedua ini? Kalau pada tertarik, tulis di komen ya, kalo rame nanti aku lanjut part 2 di sekolah dance kedua yang coach-nya mirip sama Momo Twice wkwkwk
