Tahun 2026 ini saya sudah memutuskan untuk ngga bikin resolusi apa-apa, karena toh resolusi saya biasanya terlupakan setelah 3-4 bulan di tahun yang baru. Instead, saya membuat list hal-hal yang “ingin saya tinggalkan” di 2026 ini.

Quitting My Anxious Behaviors

Tahun 2025 adalah tahun yang mengagetkan sekaligus mind opening buat saya. Sambil saya memperbaiki kejadian-kejadian menyakitkan di tahun tersebut, sekaligus saya mempelajari lingkungan sekitar saya. Dan dari situlah saya semakin paham dengan diri saya sendiri, bahwa jauh di dalam diri saya, saya menyimpan kecemasan yang tertimbun.

Ngga cuma 1 orang psikiatri yang juga mengkonfirmasi kondisi tersebut. Sampai sekarang saya masih belum memahami 100% dari mana asalnya rasa anxious tersebut. Tapi, dalam setiap tragedi yang terjadi dalam hidup saya, saya lihat ada pola kecemasan yang tercampur di dalamnya.

Termasuk dalam berumahtangga, yang menurut saya sangat triggering, satu persatu trait dari kecemasan tersebut mulai terkuak satu per satu, yang sedikit banyak mempengaruhi kualitas relationship saya.

Di tahun 2026 ini saya cuma ingin keluar dari lingkaran setan kecemasan ini. Dengan satu senjata yang saya tahu akan membantu: mindfulness. Setiap kali gejala cemas menyerbu: overthinking, ketakutan, perfeksionis, rasa tergesa-gesa dan rasa dependency yang berlebihan, saya akan kembali mengingat-ingat: feel the present. Rasakan apa yang sedang terjadi saat itu di sekitar kita. Be present. Merespon terhadap apa yang ada di depan mata saat itu juga. Saat itulah saya lupa rasa cemas yang tadi. Kualitas hidup jadi lebih baik.

Baca juga  Inside the Mind of a Bully: Sebuah Refleksi

Sudah 3 minggu di awal tahun 2026, dan saya merasakan betul manfaatnya. Be present. Feel the present.

Apakah menyelesaikan masalah? Psikiater yang pernah saya konsuli pernah berkata, “bagaimana kalau hidup kita itu ngga hanya hitam dan putih, atau ya dan tidak? Bagaimana kalo kita hidup di tengah-tengahnya?” Saat itulah saya berdamai dengan diri saya, bahwa tidak semua masalah harus selesai saat itu juga dengan memilih 1 dari 2 pilihan saja. Bisa saja kita punya pilihan 3-5, dan itu baru muncul beberapa saat kemudian. So, relax, and take your time.

Quitting Emotional Reactivity

Suatu hari saya pernah melihat sebuah konten yang menjelaskan bahwa salah satu privilege di jaman modern ini adalah, previlege untuk bisa pausing, mengambil jeda, dalam hidup. Karena, kehidupan modern ini memaksa banyak orang untuk terburu-buru, dan menjadi reaktif secara emosional.

Apa itu reaktif emosional? Menurut Manhattan Mental Health Counseling, emotional reactivity adalah

Emotional reactivity happens when we react impulsively to stress, anger, or hurt. In these moments, we’re often in a “fight-or-flight” state, leading us to overreact. This heightened emotional charge clouds our perception, making it difficult to see the situation as it truly is.

Orang dengan emotional reactivity cenderung defensif, meletup-letup, cepat marah atau frustasi terhadap oranglain, feeling overwhelmed, dan sebagaimacamnya. Dan ini dengan mudah kita temukan dimana coba?? Yes, di sosmed.

Gaya konten jaman sekarang yang mengutamakan engagement mendorong content creator untuk membuat postingan yang sifatnya “memicu reaksi emosional”. Akibatnya, kita mulai terbiasa untuk “reaktif”. Dikit-dikit komen, dikit-dikit posting biar viral, dikit-dikit ngamok, dan mungkin sampai ngga bisa mengendalikan diri mereka.

Padahal, sifat hiper-reaktif terhadap stimulus-stimulus seperti itu adalah salah satu ciri orang yang cemas. So, it is true that the world is leading you to a more and more anxious personality.

Yes, I am quitting emotional reactivity now. Gimana caranya? Se-simpel take a pause, sebelum any action. Berhenti, sebelum ngomenin orang, sebelum ngerespon orang, bahkan kalau habis denger omelan orang, kata-kata orang yang annoying, saya akan take a pause dulu. Karena kalau langsung direspon, pasti ngga bakal baik, dan bakal terus memupuk emotional reactivity, and eventually my anxiety.

Sulit sih, tapi sudah pernah ngerasain kalo ternyata efeknya sebagus itu. Terutama kalo ngomong sama pasangan yang triggering banget. Coba deh.

Baca juga  Yang Bisa Dilakukan saat Usia 15 tahun dan Bermanfaat untuk Masa Depan

Stop Wasting Time

Ini adalah hal yang paling mencolok yang saya rasain di Indonesia. Bagaimana engga, occasion yang paling sering saya alami adalah FUNERAL, yes, pemakaman. Kalau dalam setahun saya menerima hanya 2 undangan pernikahan, maka berita lelayu bisa saya dapatkan sampai 3 kali dalam setahun, dan itu semua dari lingkaran terdekat saya.

Iya, hidup itu sependek itu. Makanya, selagi punya waktu, saya ingin menghabiskan di hal-hal yang saya inginkan. Saya ingin gunakan untuk menggapai cita-cita yang saya impikan. Karena, belum tentu ada next time.

Stop Lying to Yourself

Engga tau udah berapa ratus kebohongan yang saya katakan pada diri saya. “I love this job,” while I am busy coping. “I did it for myself,” while I am trying to seek validation by pleasing others.

I lied. So many times until it becomes part of me. And sometimes it “kills” the real me. Sampe di titik kadang-kadang saya bingung memahami apa yang sebenernya menjadi keinginan saya.

Tapi, di tahun 2026 ini saya mencoba untuk berhenti berbohong dan merubah mindset saya terhadap setiap fakta yang saya “rasakan”. Oke, saya boleh tidak menyukai pekerjaan saya, tapi saya profesional, saya kompeten, dan saya bisa perform dengan sangat baik di pekerjaan saya. It covers my bill, and I have no problem with it. That’s my truth.

Oke, saya tidak harus membahagiakan siapapun karena saya percaya orang disekeliling saya akan bahagia kalau saya pun bahagia. That’s my truth.

Memang setiap kejujuran tersebut belum tentu membawa solusi. Tapi, dengan accepting the truth, kita bisa cepat sampai ke level ketenangan terbaik untuk menyelesaikan masalah yang jadi dasar dari kebohongan-kebohongan itu.

Baca juga  3 things that irritate me as I grow old

Stop Mengalah

Sebagai anak tengah, anak yang hidupnya sederhana, anak yang low self esteem, cemas dan people pleaser, Indy kecil suka sekali mengalah. Suka sekali mengorbankan dirinya sendiri. Suka sekali memilih sesuatu yang bukan apa yang diinginkan for the sake of others and her own well-being.

Tapi, Indy 2.0 sudah banyak makan asam garam di Jepang maupun di Indonesia sekarang. Sudah sadar dan aware bahwa “mengalah” itu adalah bagian dari habit yang terbawa oleh Indy kecil. Bukan berarti saya sekarang egois dan mau menangnya sendiri ya. Tapi, Indy 2.0 akan selalu memilih secara sadar, dan memilih karena pilihan itu memang sesuai dengan kemauannya, bukan karena “mengalah” atau karena habit mendahulukan orang lain.

Akhir Kata

Di setiap bulan, dan diakhir tahun nanti, saya akan kembali ke postingan ini (dan postingan di instagram) untuk melihat, sudah seberapa jauh saya melangkah menjadi Indy 2.0. Saya akan ceritakan kembali apa yang terjadi dalam kehidupan ini.

Dan saat itu saya akan merasa puas, bahwa peta kehidupan yang saya buat sekarang ternyata lebih baik dari resolusi-resolusi yang tidak pernah terlaksana.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *