Waktu kecil, ada masa di mana saya senang sekali dipuji, “wah, serba bisa ya”. Tapi, semakin dewasa, semakin saya merasa bahwa itu bukan pujian, tapi kutukan. Sebab, jack of all trades, is a master of none.

Let me put it into a context

Jack of all trades, master of none

Kalimat itu menggambarkan bahwa seseorang yang “serba bisa” itu tidak akan menjadi expert di satu bidang.

Selama menjalani pendidikan S1 kedokteran, kami, calon-calon dokter ini selalu dipaparkan tentang expertise. Karena dunia kedokteran itu sangat luas, setiap pribadi dari mahasiswa ini diharapkan bisa menjadi seorang “ahli di satu bidang”. Sebab, tidak mungkin seseorang bisa menjadi ahli untuk semua bidang.

Itulah sebabnya, makin dewasa makin saya merasa “untuk apa serba bisa? Saya hanya butuh untuk fokus di satu bidang”. Tapi, untuk orang-orang yang “terbiasa” untuk “serba bisa” dari kecil, memfokuskan diri untuk mendalami satu hal saja menjadi hal yang sangat sulit.

For years, I blamed myself because I couldn’t focus on one thing and be an expert. Rasanya seperti seorang impostor. Bahkan ini semakin terasa setelah saya lulus S3. Diumur yang sudah tidak muda, di saat teman-teman sebaya sudah mantab menjadi ahli di satu bidang, saya masih muter-muter dengan berbagai “hobby” saya.

Until I came to a realization.

Jack of all trades, master of none, but oftentimes better than a master of one

Ternyata, pepatah “Jack of all trades” ngga berhenti sampe “master of none” aja, tapi “Jack of all trades, master of none, but oftentimes better than a master of one“.

Baca juga  Generation Gap and Bullying?

Orang yang serba bisa, have too many interests, menurut psikologi adalah orang yang memiliki sistem saraf yang mudah beradaptasi (dijelaskan dengan praktis oleh channel psychologyaboutyou, tapi juga ada sumber belajarnya di referensi).

Tipe orang seperti ini, dalam psikologi, ternyata dikenal dengan istilah M-Shaped. Sementara T-shaped person punya satu core skill yang dalam, M-shaped person lebih “dangkal”, tapi punya banyak skills yang adaptable dan mampu berfungsi sebagai bridge di beberapa disiplin ilmu.

Orang-orang M-shaped ini dikatakan memiliki potensi untuk menerapkan prinsip disiplin suatu ilmu, ke disiplin ilmu yang lain untuk memecahkan suatu problema. Psikolog menyebut ini sebagai “far transfer”.

Keunggulan orang M-shaped ini bukan pada kedalamannya terhadap ilmu, tapi pada rasa keingintahuannya, pada proses sintesis ilmu, bukan pada expertise.

Jadi, bagaimana sebaiknya orang M-shaped ini menyetir kehidupannya?

How to live as a “generalist”?

Menurut kesimpulan yang dibuat oleh kanal PsychologyAboutYou dari beberapa sumber bacaan tentang M-shaped person, tipe orang seperti ini perlu memiliki cara pandang sebagai berikut:

Serial mastery

Anggap hidup ini seperti sebuah musim, yang ada musim dingin, semi, panas, dan gugur. Dalam satu era musim, kita mempelajari satu skill. Jangan mendalami lebih dari satu bidang secara bersamaan, it won’t work.

Misalnya, diusia 20 tahun kita mempelajari seni, di usia 30 kita mempelajari programming (karena tuntutan pekerjaan), di usia 40 misalnya, kita mempelajari hal yang lain lagi.

Intinya, biarkan skills tersebut berdiri sendiri-sendiri, tidak perlu memaksakan untuk membaur, hingga suatu hari nanti, masing-masing dari skill itu membentuk suatu kesatuan dan kemampuan yang unik untuk kita sendiri.

Good enough

Ketika mempelajari skill atau mendalami keahlian tertentu, tidak perlu menargetkan terlalu tinggi. Tidak perlu menargetkan “world class”, cukup targetkan secukupnya. Cukup untuk kita melangkah menekuni bidang berikutnya.

Baca juga  Merubah rasa iri menjadi energi untuk mencapai cita-cita

Atau kita bisa menempatkan satu skill sebagai pekerjaan (yang menghidupi kita), menuangkan tenaga secukupnya, sambil menempatkan skill yang lain sebagai hobby yang kita kerjakan sembari bekerja.

Ambil satu keahlian dan manifestasikan waktu secukupnya saja, sehingga kita punya waktu tersisa untuk diinvestasikan ke dalam curiosity yang lain.

Working a system

Seorang M-shaped kerap berpindah-pindah curiosity. Ketika kita sedang terobsesi untuk mempelajari satu skill, buatlah “catatan” dan simpan catatan itu. Lakukan ini untuk setiap skill yang kita pelajari.

Suatu saat, catatan-catatan kecil itu akan menjadi sebuah network atau sebuak sistem yang bisa kita akses. Siapa tau, ketika kita mengerjakan suatu pekerjaan/proyek, catatan-catatan kecil dari skill kita terdahulu justru memberi manfaat atau inspirasi pada pekerjaan saat ini.

Dengan membuat sistem ini, kita bisa menyalurkan rasa penasaran kita, sekaligus membangun sistem yang bermanfaat untuk ke depannya.

Redundancy

Anggaplah berbagai macam skill yang kita miliki sebagai safety net, yang artinya, ketika satu skill gagal membawa kita ke kesuksesan, kita masih punya skill yang lain. Ketika satu skill sudah tidak lagi dibutuhkan di muka bumi, kita masih bisa menggunakan skill yang lainnya lagi. Intinya, akan selalu ada skill yang bisa kita manfaatkan.

In the world of medicine…

Seperti yang saya bilang tadi, di dunia kedokteran, kita memang selalu didorong untuk menjadi ahli di bidang tertentu. Tapi, ketika menonton The 19th Medical Chart, sebuah drama Jepang bertema kedokteran di Netflix, saya menyadari sesuatu.

Jepang sudah lama mengenal sistem spesialisasi. Semua lulusan dokter mayoritas (mungkin 98%) pasti akan menjadi seorang spesialis. Sejak lulus pendidikan S1, mereka sudah diarahkan untuk memilih spesialisasi. Walaupun ada beberapa orang yang menjadi “dokter keluarga”, atau seperti dokter umum di Indonesia, atau GP (general practitioner) di negara barat, terutama untuk mereka yang bekerja di pedesaan.

Baca juga  The Perks of Living in Fear

Tapi, entah mengapa, di drama The 19th Medical Chart, mereka menonjolkan pentingnya seorang “generalist”. Karena seorang spesialis kadang luput dengan hal-hal yang sifatnya general, saking mereka ekspertis di satu bidang saja.

Hal ini seperti menunjukkan bahwa di dunia yang penuh dengan spesialis, penuh dengan para ahli, lama-lama akan terlihat bahwa hal-hal yang sifatnya umum jadi mudah terlewatkan. Di sinilah peran generalis muncul. Karena generalis memiliki banyak keahlian, yang meskipun dangkal, mereka menjadi alat screening yang baik.

What I want to say…

Ngga semua orang, bahkan psikolog, satu suara tentang M-shaped person. Ngga semua orang setuju bahwa generalist itu versatile dan mampu survive di specialist-driven world, but, it does. Dan bukan berarti T-shaped person itu ngga diperlukan.

But If you are in the same boat as me, stop blaming yourself and embrace your uniqueness.

Rasa ingin tahu yang tinggi, yang mendorong kita penasaran dengan ini itu, mungkin terlihat sebagai liability ketika kita ingin menapaki karir sebagai seorang “ahli” di satu bidang. Pikiran seperti ini mungkin memantik kecemasan dalam diri.

But trust me, it is not liability, not a curse, it is a gift. Embrace it.

Dengan dunia yang semakin berubah, percayalah, M-shaped person pasti bisa menemukan kesuksesannya. Karena M-shaped bisa memiliki manfaat sebagai jembatan antar keilmuan.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *