Minggu ini, saya dapat tantangan untuk menulis dengan tema “takut” di forum #1minggu1cerita. Kebetulan, menurut suami, saya punya kecenderungan untuk living in fear. Seperti apa itu?

Living in fear: seperti apa?

Saya sebenernya kurang setuju dengan opini suami tersebut, karena saya ngga se-parno itu. Tapi, ternyata ada beberapa karakter yang menunjukkan bahwa seseorang hidup dengan didorong oleh ketakutannya:

The “what if question”

Pernah ngga terus-terusan kepikiran, “gimana ya kalo aku nanti bla bla bla…?”. Inilah yang dimaksud what if question. Ngga ada yang salah dengan pertanyaan itu, yang salah adalah ketika kita terobsesi dengan kondisi what if.

Seorang yang sering menanyakan hal-hal yang belum tentu terjadi, adalah ciri-ciri seseorang yang “hidup dengan dikendalikan oleh ketakutan”. Kenapa? Artinya, orang tersebut terus menerus merasa takut atau mengkhawatirkan sesuatu yang itu berada di luar kendalinya. Although they know very well that we can do nothing about it.

Pada akhirnya, orang yang terobsesi dengan what of question akan cenderung mencari tempat aman, dan berkutat disitu saja, tidak bisa maju dan berkembang. Living their own fear. Terus menerus berputar pada pertanyaan what if yang kadang ngga ada jawabannya.

Selalu mencari kesempurnaan

Everybody knows, nobody perfect.

Tapi, orang yang hidup dengan dihantui dengan ketakutan akan cenderung berusaha untuk selalu sempurna.

Sebab, mereka khawatir, jika ada sedikit celah saja, mereka akan gagal dan hancur. Padahal, itu belum tentu terjadi. Bisa jadi orang tersebut sebenarnya controlled by fear of failure.

Seseorang yang terobsesi pada kesempurnaan, lama kelamaan akan menjadi seorang yang control freak. And it’s so difficult to live with someone who is a control freak.

Can’t make decision

Tentu saja membuat keputusan akan sangat susah ketika kita punya banyak sekali what if question yang harus dijawab untuk mendapatkan keputusan yang sempurna.

Baca juga  Trauma pada Kucing: Kisah Jeje si Kucing Cantik

Padahal, sekali lagi, ngga ada sesuatu yang benar-benar sempurna. Dan ada ribuan hal yang itu bukan sesuatu yang bisa kita kontrol.

“Yes Man”, procrastination, and the sickness

Orang yang tidak bisa berkata tidak, suka procrastination, dan sering stress juga bisa menjadi ciri khas orang-orang yang living in fear.

Ada orang yang tidak bisa berkata tidak, karena mereka takut dengan penolakan, atau fear of rejection. Ada orang yang selalu procrastinate karena dia takut akan gagal atau fear of failure. Dan ujung-ujungnya, orang seperti ini akan mudah stress, dan kemudian sakit.

Fear is not always bad

Fear atau ketakutan merupakan sebuah emosi atau reaksi yang wajar, yang dibutuhkan oleh manusia untuk menghindari hal-hal yang berbahaya bagi dirinya. Makanya, punya ketakutan tertentu bukanlah sesuatu yang selalu buruk.

Takut sama beruang, wajar dong, karena beruang bisa menyakiti manusia. Takut sama dosen, karena dosennya bisa ngga meluluskan kita, ini juga wajar. Takut adalah wajar, yang tidak wajar adalah ketika ketakutan tersebut kemudian membuat kita menjadi tidak rasional.

Terus-terusan terobsesi pada hal yang belum tentu terjadi, tidak bisa dikendalikan, adalah sesuatu yang irrational dan akan mendorong perilaku-perilaku irrational lainnya. Inilah yang berbahaya.

Sebenarnya, orang-orang yang living in fear punya beberapa kelebihan, misalnya:

  1. Mereka adalah perencana yang baik, karena mereka akan sangat kalkulatif dalam menyusun rencana, mempertimbangkan segala resiko dan keuntungan dengan baik
  2. Mereka tidak akan asal-asalan dalam membuat keputusan. Setiap keputusan pasti sudah dipikirkan baik-baik
  3. Mereka jauh lebih sensitif dalam mengenali tanda-tanda bahaya. Karena mereka terobsesi untuk menghindari ketakutan tersebut.

Jadi, memiliki ketakutan bukanlah sesuatu yang benar-benar buruk. Ada sisi baik yang merupakan respon normal dari suatu ketakutan.

Solusi bagi orang-orang yang living in fear bukanlah untuk menghilangkan ketakutannya (karena rasa takut itu juga penting), tapi mengendalikan rasa takut itu, tidak membiarkan rasa takut itu mengendalikan kita, dan kemudian hidup berdampingan dengan rasa takut.

Sebab, hidup dengan terus menerus dikelilingi rasa takut akan membuat hidup kita tidak bahagia, penuh stres dan ansietas.

Image by Anemone123 from Pixabay

Living WITH fear

Ada beberapa cara yang menurut saya cukup efektif untuk mengendalikan rasa ketakutan yang berlebihan tersebut

Baca juga  Perempuan dan Perpisahan: Tantangan dalam Hidup Minimalis

Acknowledging

Pertama, kita harus acknowledge rasa takut kita ini adalah berlebihan. Kita harus bisa mengenali bahwa ini sudah di luar batas normal.

Dulu, saya tidak pernah berpikir kalau pola hidup saya sangat dikendalikan oleh rasa takut akan gagal, sampai saya bertemu dengan suami saya yang sangat berkebalikan dengan saya.

Awalnya saya sangat gemas dan risih dengan gaya hidup suami, hingga muncul ide-ide untuk “mengendalikan” hidup suami saya. Dari situlah suami saya membantu saya menyadari bahwa ada yang salah. Mengapa saya ingin mengendalikan orang lain?

Detach your emotions, and go back to reality

Di dalam sebuah ketakutan, ada hal-hal yang itu rasional dan tidak rasional. Mulailah mendata, mana yang rasional dan mana yang tidak rasional.

Yang tidak rasional biasanya adalah hal-hal yang diluar kontrol kita. Biasanya didorong oleh emosi yang berlebihan. Kita tidak bisa melakukan apa-apa, so, control your emotions, dan jangan berfokus pada hal-hal yang berada di luar jangkauan kita.

Misalnya kita sedih karena ada orang terdekat yang meninggal, kemudian kita jadi takut mati, dan kemudian terobsesi dengan cara-cara menghindari kematian secara terus menerus. Padahal, di dalam konsep kematian, ada peran Tuhan yang itu berada di luar kontrol kita. Apakah realistis untuk berusaha mengontrol kehendak Tuhan?

Sebaiknya, temukan hal-hal yang itu memang bisa kita kendalikan, dan lakukan langkah berikutnya.

Find solutions

Untuk hal-hal yang bisa kita kendalikan, yang kita khawatirkan, mulailah mencari solusi untuk hal-hal tersebut.

Dengan mencari solusi dan mempercayai solusi tersebut, itu akan membantu kita dalam menghadapi ketakutan, bukan lari dari ketakutan.

Rasa takut biasanya datang dari suatu masalah, maka dengan mencari solusi dan menyelesaikan masalah tersebut, maka kita telah menghadapi rasa ketakutan kita.

Dengan problem solving seperti ini, akan membantu menumbuhkan rasa percaya diri. Dari rasa percaya diri itulah akan muncul keberanian, yang menjadi senjata dalam menghadapi ketakutan.

My personal experience

Having international marriage is not as beautiful as people think it is. Banyak masalah yang berpotensi timbul karena perbedaan mindset, budaya, bahkan bahasa. Dan ini cukup men-trigger rasa ketakutan saya.

Selama hampir 2 tahun menjalani pernikahan, banyak sekali ketakutan yang timbul di benak saya. Apalagi dengan kenyataan bahwa saya dan suami beda budaya, beda pola komunikasi dan bisa beda negara tempat tinggal juga alias LDM.

Baca juga  Pertanyaan dari Suami Muallaf, yang Membuat Saya Tertegun

Apalagi saya dulu punya ketakutan yang besar terhadap suatu kegagalan. Yang baru belakangan ini saya sadari dan akhirnya saya belajar untuk bisa me-manage kegagalan tersebut.

Dalam pernikahan, ada banyak ketakutan yang muncul, seperti takut suami selingkuh (orang Jepang punya budaya dan mindset yang agak beda soal selingkuh), takut kehidupan kami tidak stabil karena beda negara, dan sebagaimacamnya. Sebenernya normal seperti kebanyakan perempuan, takut gagal dalam pernikahan.

Tapi, ada kalanya ketakutan-ketakutan tersebut membawa saya ke level yang cukup irasional hingga saya kehilangan the joy of life. Daripada menikmati kehidupan, saya malah jadi terobsesi mencari-cari jalan untuk menghindari ketakutan saya tadi, yang bikin suami merasa annoyed dan ikutan ngga enjoy. Sampai saya ingin menjadi seorang control freak yang maunya semua berjalan “sempurna untuk saya”, which is totally wrong.

Padahal, belum tentu ketakutan itu semua akan terjadi. Dan banyak hal di dalamnya yang sebenernya tidak bisa saya kontrol. Saya juga tidak bisa mengontrol pasangan, karena pasangan adalah individu berbeda yang punya kehendak sendiri, and the first rule of marriage is you have to respect your partner.

Jadilah akhirnya saya mulai menyadari ketakutan yang irrational tersebut dan belajar untuk living WITH fear. Melupakan hal-hal diluar kontrol dan berusaha memecahkan masalah yang memang bisa dipecahkan. Menurut saya, bener-bener ngga mudah.

But you know what, efeknya sangat signifikan. Saya jadi lebih bersyukur terhadap hal-hal kecil yang terjadi dalam kehidupan, jadi lebih ingat untuk merasa cukup (walaupun kadang masih suka ngiri dan “takut tidak bisa sesukses orang lain” sih hahaha), lebih fokus terhadap problem solving, dan yang terpenting, saya jadi bisa lebih merasa bahagia terhadap hal-hal yang kecil sekalipun.

Karena punya pengalaman dengan ketakutan, saya juga jadi punya a good sense of danger, termasuk dalam hal planning. Ini membantu saya untuk team-up dengan suami untuk saling memenuhi kekurangan satu sama lain.

Lastly, fear is good, but don’t let it overcome your joy.

Share this post

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *