Pernah ngga sih merasa, “duh, aku bego banget sih, gitu aja ngga bisa?” atau ngerasa “aku ngga pantes, karena aku ngga berharga?”. Sadar ngga, kalau ini sebenernya tanda kalau kita tidak punya cukup self-compassion.

Self compassion: apa itu?

Berdasarkan Stanford Medicine, self compassion atau self kindness diartikan sebagai sebuah sikap atau perilaku baik terhadap diri sendiri disaat kita menghadapi kesulitan.

Menurut dr. Kristin Neff, salah seorang pakar Self Compassion, memiliki self compassion artinya kita tidak serta merta menghakimi dan mengkritik diri sendiri atas kekurangan kita atau kesalahan kita, tapi menyikapi hal tersebut dengan pengertian terhadap diri sendiri. Sebab manusia tidaklah sempurna.

Emang kenapa dengan self compassion?

Beberapa minggu terakhir ini saya mengalami beberapa masalah yang terjadi karena kekurangan saya. Instead of menghadapi masalah tersebut, saya malah “menyalahkan” diri sendiri.

Awalnya saya tidak sadar dengan kebiasaan saya “menyalahkan” diri sendiri. Setelah curcol dengan suami, akhirnya saya sadar bahwa kebiasaan tersebut terbentuk karena lack of self compassion.

Masalahnya, kehidupan tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Membuat kesalahan, merasa gagal, hingga frustasi bisa saja terjadi. Tapi, tanpa self compassion dan hanya menyalahkan sana sini, justru malah semakin menyakiti inner child kita dan sama sekali tidak menyelesaikan masalah.

Padahal, cara terbaik menyelesaikan masalah adalah dengan berdamai dengan diri sendiri, termasuk dengan inner child kita. Sedangkan menyalahkan diri sendiri sebenarnya adalah cara kita untuk melarikan diri dari suatu masalah. Terasa ngga sih?

Baca juga  Melepas attachment dalam minimalism: sebuah tantangan

Bagaimana menumbuhkannya?

Pertanyaan berikutnya, jika memang self compassion itu penting, bagaimana menumbuhkannya? Menurut dr. Kristin Neff, caranya adalah dengan menghormati dan menerima humanness. Sebab membuat kesalahan, kegagalan hingga frustasi adalah sesuati yang manusiawi sekali.

Semakin kita membuka hati terhadap hal-hal yang manusiawi ini alih-alih terus-menerus melawannya, akan lebih mudah bagi kita untuk merasakan belas kasih untuk diri sendiri dalam kehidupan.

Salah satu cara yang saya pelajari adalah dengan menerima kenyataan. Acceptance and acknowledge.

Setelah itu diikuti dengan forgiveness. Instead of memaki diri sendiri, cobalah untuk memaafkan dan berdamai, termasuk dengan inner child kita, yang biasanya tersakiti ketika kita menyalahkan diri sendiri.

Jika kita mampu berdamai dengan diri sendiri, akan lebih mudah untuk kita menghadapi masalah dan menyelesaikannya seperti orang dewasa.

Self compassion bukan berarti memanjakan diri sendiri

Tapi, menumbuhkan self compassion itu tidak sama dengan memanjakan diri sendiri, atau self pitying. Untuk menumbuhkan self compassion juga dibutuhkan usaha dan pengorbanan yang sedikit banyak berat buat kita.

Self compassion bukan berarti “aduh, situasi ini terlalu berat buat saya. Ya sudah saya makan coklat dan duduk-duduk saja karena lelah”, tetapi, “Ya, memang benar situasi ini terlalu berat untuk saya. Tidak apa-apa. Sekarang mari berpikir, bagaimana membuat situasi jadi lebih baik?”

Karena self compassion bertujuan untuk menggapai kebahagiaan dan kesehatan secara psikis. Dan itu tidak bisa didapatkan hanya dengan “duduk-duduk” saja. Harus ada usaha untuk merubah situasi lebih baik.

Self compassion juga bukan semata-mata mengasihani diri sendiri saja. Karena mengasihani diri sendiri terus menerus juga tidak akan merubah situasi, tapi justru membuat kita semakin egois. Harus ada action yang jelas untuk membuat situasi lebih baik dalam jangka panjang.

People feel compassion for themselves because all human beings deserve compassion and understanding, not because they possess some particular set of traits (pretty, smart, talented, and so on). This means that with self-compassion, you don’t have to feel better than others to feel good about yourself.  Self-compassion also allows for greater self-clarity, because personal failings can be acknowledged with kindness and do not need to be hidden. Moreover, self-compassion isn’t dependent on external circumstances, it’s always available – especially when you fall flat on your face!

dr. Kristin Neff, self-compassion.org

Kesimpulan

Well, buat saya, self compassion bukanlah hal yang mudah. Terdengar simpel, tapi tidak mudah dipraktikkan.

Baca juga  Trauma pada Kucing: Kisah Jeje si Kucing Cantik

Namun kita bisa memulainya dengan lebih memahami dan lebih menerima kondisi yang manusiawi, dan menemukan cara untuk membuat situasi menjadi lebih baik in long term. That is self compassion.

Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai yang kita inginkan, dan self compassion adalah salah satu kunci untuk menghadapinya.

Diantara teman-teman, apakah ada yang punya pengalaman dengan self compassion?

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published.