Dalam bahasa Jepang, “hakanai” artinya transient atau sementara. Namun, dibalik kata tersebut, tersimpan sebuah keyakinan orang Jepang, bahwa sesuatu yang sementara biasanya lebih indah.

Hakanai: the transient beauty

Suatu hari ketika saya berulang tahun, suami berinisiatif untuk membuat dekorasi ulang tahun dengan balon-balon yang dia tiup dan rangkai sendiri sebagai bentuk hadiah dari dia.

Karena saya merasa sayang dengan usaha suami, hiasan balon ulang tahun itu saya biarkan tetap menempel di dinding kamar selama beberapa minggu. Sampai suatu hari suami bertanya, “Balonnya kenapa ngga dicopot? Mau dibiarkan disitu sampai kapan?”

Balon ulang tahun karya suami

Saya menjelaskan bahwa saya ngga tega melepaskannya karena saya menghargai usaha suami. Ternyata, suami tidak setuju. Menurut suami, segala sesuatu akan lebih terasa indah jika kita tepat pada momennya.

Misalnya, balon ulang tahun itu akan terasa sangat indah dan berarti jika dipasang hanya di momen ulang tahun saja. Sedangkan jika balon itu dibiarkan terus menerus, maka arti dan keindahan si balon itu justru hilang.

Alias sudah tidak ada maknanya balon itu bersandar disitu.

Sakura dan Hakanai

Salah satu contoh yang digunakan suami untuk menjelaskan konsep Hakanai ini adalah musim bunga sakura.

Pernah terpikirkan kenapa orang Jepang tidak pernah bosan dengan musim sakura padahal setiap tahun selalu melihat bunga sakura?

Jawabannya adalah karena musim sakura datang hanya sesaat saja, kemudian segera menghilang. Kehadirannya yang cuma sebentar saja, membuat orang-orang Jepang senantiasa menantikan musim sakura berikutnya.

Memang, pada dasarnya bunga sakura hanya mekar selama 2 minggu-an saja, dimulai dari akhir bulan Maret hingga awal bulan April. Itu pun kalau tidak ada hujan atau hujan angin (kalau ada hujan dan angin bisa lebih cepat rontok bunganya).

Baca juga  Setsubun: Tradisi Lempar Kacang di Jepang

Dan setelah itu, tidak akan ada lagi bunga sakura yang bermekaran hingga tahun berikutnya. Jadi, akan selalu ada rasa excited menunggu musim berikutnya.

Sesuatu yang sifatnya “sementara”, tidak selalu buruk

Misalnya suatu perayaan. Kalau perayaannya terus-terusan berbulan-bulan, berhari-hari, tentu yang tersisa hanya capeknya aja. Rasa festive itu akan hilang.

Dan akan selalu ada rasa excited menunggu ketika perayaan itu akan datang lagi. Sama seperti bagaimana excited-nya kita menunggu bulan Ramadhan dan momen lebaran.

Terkadang walaupun hanya “sesaat” atau “sementara”, pasti ada sesuatu yang kita bisa pelajari disitu. Dan meskipun hanya “sebentar” belum tentu efeknya hanya sesaat saja.

Buat yang muslim, meskipun Ramadhan cuma 1 bulan, tapi pasti ada efek yang kita rasakan secara lahir dan batin di bulan-bulan setelahnya.

Sementara kalau buat orang Jepang, melihat bunga sakura kadang memberikan semangat yang baru di tahun itu dan memberi semangat di awal tahun fiskal yang baru.

Saya sendiri sedang mencoba memaknai segala sesuatu yang cuma sebentar. Misalnya, pekerjaan yang temporer, perayaan ulang tahun yang hanya sejenak, keberhasilan yang cuma sejenak, dan termasuk kegagalan yang cuma sejenak juga.

Dan so far, it is not bad at all.

Ngga sesuatu yang “singkat” yang “tidak permanen” selalu berarti buruk. Bisa saja mereka adalah bagian dari perubahan yang lebih baik untuk jangka waktu yang lebih lama.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published.