Belakangan ini terapi brainwash atau (BW) sedang ramai diperbincangkan oleh publik, apalagi dikaitkan dengan berita pemecatan yang sedang mencuat.

Di artikel ini saya tidak mau membahas berita pemecatannya, dan tidak membahas dokternya juga. Kali ini saya mau membahas tentang terapi BW tersebut dari kacamata saintifik saja, dalam koridor saya sebagai orang yang juga bekerja dibidang riset.

Disclaimer dulu ya, tulisan ini adalah opini pribadi saya, tidak ada sangkut pautnya dengan pihak manapun. Kajian ini saya tulis berdasarkan keilmuan saya. Saya bukan ahli di bidang saraf otak, tapi saya mencoba menjelaskan dari sisi saintifik.

Tulisannya saya tulis dengan santuy saja, jadi dibacanya santuy aja ya, ngga usah serius-serius banget. Mau percaya atau ngga juga silahkan ya. Yuk mari kita bahas.

Apa itu terapi Brainwash?

Terapi BW ini ternyata prinsip cara kerjanya sama dengan Digital Substraction Angiography (DSA). Yaitu dengan memasukkan cairan ke dalam pembuluh darah di otak, kalau DSA yang dimasukkan adalah cairan kontras (yang memberi “warna” ke pembuluh darah otak sebelum diambil gambarnya) kalau BW dengan memasukkan heparin (zat untuk mencegah gumpalan darah).

Menurut Prof Moh Hasan Machfoed, guru besar dari UNAIR, dalam tindakan DSA sendiri secara prosedur juga menggunakan heparin. Makanya BW ini sebenarnya hampir sama dengan DSA.

DSA sendiri adalah alat diagnostik, alat untuk membantu menentukan diagnosis. Sama seperti USG, X-ray, atau MRI. Biasanya orang dilakukan pemeriksaan USG perut untuk mengetahui ada kelainan apa di perutnya, bukan untuk menyembuhkan.

Maka logikanya, secara prinsip sama dengan DSA, fungsinya untuk melihat struktur pembuluh darah di otak, bukan untuk menyembuhkan. Namun sekarang tindakan tersebut diklaim sebagai sebuah terapi, bahkan sebagai tindakan pencegahan.

Baca juga  Program Vaksin HPV: Women should celebrate!

Tapi, banyak pasien sembuh setelah terapi Brainwash…

“Sembuh” adalah suatu kriteria yang subyektif, yang relatif, jadi tiap orang bisa berbeda “standar” kesembuhannya. Jadi sulit menilai apakah suatu hal yang dikatakan sebagai “terapi” itu benar-benar “menyembuhkan”.

Makanya, dalam dunia kedokteran, untuk melihat apakah terapi itu benar-benar bermanfaat, dilakukanlah penelitian yang terstandar. Supaya siapapun yang memahami penelitian tersebut, punya standar yang sama dengan apa yang disebut “sembuh” dan yang bukan.

BW sebagai terapi ternyata pernah ditulis menjadi “sebuah penelitian”. Dalam penelitian tersebut, istilah yang dipakai bukan BW atau DSA, tapi intra arterial heparin flushing (IAHF). Penelitiannya bisa dibaca di sini.

Sudah ada penelitiannya, hasilnya bagus, berarti memang sudah terbukti donk?
Apakah betul begitu? Yuk mari kita sedikit memahami penelitian medis.

Memahami penelitian tentang Brainwash

Jadi, peneliti ingin membuktikan apakah tindakan terapi BW ini benar-benar bermanfaat. Caranya gimana? Caranya dengan memeriksa pasien stroke yang mendapat terapi dan melihat “kesembuhannya”.

Supaya standar “kesembuhan” sama antara peneliti dengan pembaca, maka peneliti menggunakan skor yang disebut Manual Muscle Test – Medical Research Councils (MMT-MRC). Semakin besar skornya, semakin bagus. Jadi kalau skornya tinggi anggapannya dia “sembuh”.

Dalam penelitian tersebut, peneliti mengumpulkan 75 pasien dengan kriteria sakit yang sama, sebut saja sakit stroke kronis, sejak bulan Februari 2015 sampai tidak tahu kapan (jurnal terbit tahun 2019).

Ke-tujuhpuluh lima pasien tersebut mendapatkan terapi IAHF dan dilihat sebelum dan sesudah terapi. Ternyata ada perbaikan skor MMT, setelah terapi skornya meningkat, alias semakin “sembuh”.

Berarti terbukti donk? Kenapa diributin?

Ternyata, penelitian tersebut memiliki banyak kekurangan, seperti yang diungkapkan oleh seorang guru besar yang ahli dalam riset, Prof. Dr. dr. Sudigdo Sastroasmoro, Sp.A(K).

Penelitian BW tersebut dilakukan dengan metode eksperimen randomized controlled trial (RCT), seperti tertulis dalam jurnalnya. Yang artinya pasien yang memenuhi kriteria akan direkrut dan akan diberikan terapi secara random, ada yang dapat terapi beneran (alias IAHF), nantinya ada yang dapat terapi placebo (bukan IAHF).

Baca juga  4 Alasan Memilih S3 di Jepang

Yang mendapat terapi placebo disebut sebagai grup kontrol. Jadi kita bisa benar-benar melihat manfaat dari si IAHF ini dengan membandingkannya dengan yang mendapat terapi bukan IAHF alias membandingkan dengan kontrol.

Tapi, jika ditilik dari hasil eksperimen BW tersebut, ternyata 75 orang pasien itu tidak ada yang menjadi kontrol. Semuanya mendapat terapi IAHF. Artinya, tidak ada proses randomisasi.

Ya memang hasil antara sebelum dan sesudah terapi lebih baik. Tapi, lebih baik jika dibandingkan apa? Jangan-jangan kalau ada kelompok yang dilakukan prosedur yang sama tapi dengan placebo, hasilnya sama? Well, who knows? Siapa tau diguyur air juga hasilnya sama.

Yang kedua, kalau liat media sosial pasti semua tahu, kalau prosedur BW atau DSA ini sudah banyak pasiennya. Pada tahun 2016 bahkan diklaim sudah ada 30.000 lebih pasien. Bahkan menurut berita, pasien DSA ini bisa mencapai 8-9/hari.

Artinya, tidak sulit mengumpulkan pasien untuk penelitian. Dalam waktu satu tahun saja, mungkin sudah ada ribuan pasien. Paling tidak beberapa ratus diantaranya setuju menjadi subjek penelitian.

Sayangnya, di dalam penelitian yang diterbitkan entah kenapa hanya 75 pasien saja yang berhasil dikumpulkan, entah berapa lama penelitian itu dilakukan (karena hanya ditulis sejak Februari 2014). Coba menunggu agak lama lagi, mungkin lebih banyak lagi sampel pasiennya.

Kalau kita melihat ke penelitian-penelitian lain yang membuktikan keberhasilan terapi, biasanya penelitian tersebut akan menggunakan pasien/subjek/sampel yang begitu besar jumlahnya. Misalnya di penelitian obat covid, sampelnya ada sampe 1000an.

Kenapa harus begitu banyak pasien/sampel? Ya karena respon orang terhadap suatu terapi itu bisa berbeda-beda. Bagaimana kita yakin bahwa respon yang terjadi adalah respon yang umum ditemukan, bukan respon yang terjadi pada sebagian kecil orang saja? Cara memastikannya adalah dengan menguji ke orang yang lebih banyak lagi. Karena “sembuh” bagi 75 orang, belum tentu sama “sembuh”nya di 1000 orang. Apalagi di populasi yang lebih besar.

Baca juga  Software penting yang bermanfaat banget untuk S3

Ini baru dua hal saja dari keseluruhan isi penelitian yang ternyata “tidak sesuai” antara tujuan dan metode-nya. Sehingga kita tidak bisa mempercayai hasilnya.

Misalkan saja kita mau memasak ayam bakar, tetapi metode yang kita gunakan adalah dengan panci berisi minyak panas. Apakah kita akan percaya bahwa yang jadi nanti ayam bakar, bukan ayam goreng?

Sama dengan penelitian IAHF ini, dengan ketidak sesuaian metode untuk uji klinis, apakah kita berani mempercayai bahwa hasilnya benar-benar lebih baik?

Kesimpulan

Dari segi saintifik sebenernya mungkin banyak yang perlu dikritisi oleh ahlinya dari penelitian tentang terapi brainwash tersebut. Disini saya hanya mengambil 2 hal saja yang menurut saya sudah cukup “nyeleneh”.

Meskipun hasil yang digambarkan dalam penelitian tersebut cukup menjanjikan, tapi kita harus memahami betul bagaimana metode yang digunakan dan bagaimana kesimpulan tersebut diambil. Jika tujuan dan metode yang digunakan benar, makanya baru bisa percaya dengan hasilnya.

Dan seperti yang diajarkan oleh guru-guru S3 saya, jangan langsung percaya ketika kita disodori penelitian. Harus selalu skeptis dulu. Kritisi dahulu, baru kita ambil manfaatnya.

Sebaiknya segala sesuatu dalam hidup juga harus seperti itu. Jangan langsung percaya. Ingat ayat pertama di dalam Al-Quran, “iqro”. Baca, baca, dan baca. Jangan percaya kata orang!

Sekian pembahasan sederhana dan santuy dari saya, kalau ada yang mau ditanyakan atau didiskusikan, silahkan di kolom komentar ya!

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published.