Berumahtangga dengan orang asing mungkin terdengar seperti cerita fairy-tale yang nampak indah. Padahal ngga seindah itu, bahkan ada banyak tantangan dan rintangannya.

Dalam pengalaman saya berumahtangga dengan orang asing, dalam hal ini orang Jepang, sungguh banyak perbedaan yang sangat berpotensi untuk timbul pertengkaran.

Tiap bulan pasti ada hal-hal yang berpotensi menimbulkan pertengkaran yang kadang skalanya tidak kecil. Tapi, untungnya, tidak sampai membuat saya maupun suami menyerah menghadapinya.

Dari pengalaman pertengkaran tersebut, saya menemukan beberapa poin yang bermanfaat bagi saya dan suami dalam menghadapi tantangan dalam rumahtangga.

Mungkin saran ini bisa bermanfaat juga buat temen-temen, termasuk yang sedang menjalin hubungan dengan orang asing, jadi saya akan share di sini:

Have no expectations

Hal pertama yang saya rasakan paling penting adalah untuk berhenti memiliki ekspektasi terhadap pasangan kita. Sebab ini seringkali menjadi pemicu pertengkaran dalam pengalaman saya.

Menurut opini pribadi saya, ekspektasi itu terbentuk dari campuran budaya dan lingkungan tempat kita lahir dan di besarkan. Sehingga kurang tepat jika ekspektasi dari budaya dan lingkungan itu kita proyeksikan ke orang yang berbeda sekali latar belakang kehidupannya.

Misalnya, adalah sesuatu yang wajar jika kita berekspektasi memiliki suami misalnya yang sholeh, mapan, perhatian, baik, seperti layaknya pria idaman di Indonesia. Tapi ketika kita berharap dan berekspektasi bahwa suami/pasangan kita, yang lahir dan besar di lingkungan yang berbeda, akan persis seperti kriteria tersebut, rasanya hanya akan jatuh pada kekecewaan. Dan kekecewaan biasanya menjadi sumber pertengkaran yang kuat.

Saya dulu juga pernah merasakan yang namanya kecewa karena ekspektasi yang tidak tergapai. Tetapi setelah saya renungkan, sekarang saya malah jadi belajar skill baru untuk “go with the flow”.

Baca juga  Pertanyaan dari Suami Muallaf, yang Membuat Saya Tertegun

Communicate

Bukan cuma komunikasi “udah makan?”, “hari ini pulang jam berapa?”, atau “kamu mau makan apa?”, tetapi juga mengkomunikasikan perasaan kita, ekspektasi kita, hingga permasalahan yang ada.

Setelah kita memahami bentuk dan pola komunikasi yang terbaik untuk kita dan pasangan, berikutnya adalah soal substansinya, alias isinya. Apa saja yang perlu dikomunikasikan?

Karena berbeda gender, beda budaya, dan beda kebiasaan, kadang kita harus lebih gamblang mengkomunikasikan perasaan kita ke pasangan. Apa yang membuat kita sedih, senang, kecewa?

Dan termasuk poin yang sebelumnya, mengkomunikasikan ekspektasi kita, harapan kita, juga masuk ke dalam substansi yang perlu disampaikan.

Bahkan, dalam keadaan marah dan ribut sekalipun, suami saya selalu berusaha mengkomunikasikan kepada saya apa yang dia rasakan, apa yang menurut dia menjadi masalah, dan bagaimana sebaiknya memecahkan masalah tersebut.

Sementara saya, sebagai wanita, kadang lebih sulit untuk mengkomunikasikan hal tersebut, apalagi kalau sudah terbawa emosi.

Jadi, dari satu pertengkaran ke pertengkaran lain, saya jadi belajar bagaimana menyampaikan apa yang menjadi masalah buat saya, apa yang saya rasakan, dan apa yang saya pikir bisa menyelesaikan masalah ini.

Berorientasi pada tujuan

Inilah sebabnya kenapa membuat prioritas itu penting dalam pernikahan. Karena ketika ada masalah, kadangkala kita harus mengorbankan hal-hal yang bukan prioritas untuk kembali pada tujuan utama kita menikah.

Bagi saya dan suami, menjaga hubungan merupakan prioritas kami. Setiap kali ada masalah, tujuan utama komunikasi adalah menemukan solusinya.

Seperti yang saya bahas pada poin sebelumnya, setiap kali marah, yang suami tanyakan selalu “why” dan “how”. Karena tujuan utama komunikasi suami saya adalah untuk menemukan solusi.

Awalnya saya kesal karena suami terus-terusan bertanya kenapa begini, kenapa begitu, ternyata karena saya tidak pernah bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan jelas, sehingga suami merasa tidak bisa mendapatkan solusinya.

Baca juga  Peran laki-laki dalam keluarga Jepang: antara stereotipi dan realita

Lama kelamaan saya jadi paham kenapa laki-laki lebih logis sementara wanita lebih mudah terbawa emosi. Dan jadi pelajaran juga buat saya mengendalikan emosi dan tetap berpikir logis ketika sedang marah.

Menulis journal emosi

Di rumah, saya punya satu buku dimana saya menuliskan perasaan saya setiap kali saya marah, emosi, atau sedih.

Buku itu membantu saya untuk mengingat apa saja yang menjadi masalah buat saya, sekaligus membantu saya untuk kembali ke “tujuan” saya.

Dan ini ngga cuma buat saya saja, suami pun juga punya jurnal emosi milik dia sendiri yang dia buat atas inisiatif pribadinya. Menurutnya, ini membantu dia mencatat masalah yang kadang saya sendiri tidak dapat mengkomunikasikan dalam keadaan emosi dan bagaimana menghadapinya.

Ternyata jurnal ini lumayan efektif tiap kali kami menghadapi masalah. Kami masing-masing bisa me-review kembali perasaan, masalah, dan emosi yang sudah pernah dilewati dan bagaimana menyelesaikannya. Dan ngga bisa dipungkiri, kadang-kadang ada beberapa masalah atau emosi yang sebenernya berulang, atau solusinya belum ketemu sepenuhnya.

Apalagi dengan perbedaan bahasa, kadang dengan menuliskannya dalam jurnal akan membantu kami untuk memahami dalam bahasa dan terminologi masing-masing.

Mungkin kalau sudah berumahtangga lama, jurnal seperti ini tidak lagi dibutuhkan. Tapi berhubung saya “baru mulai”, jadi saya merasakan manfaat dari jurnaling seperti ini.

Pahami diri sendiri

Ngga usah buru-buru sok-sokan memahami pasangan kita. Lebih utama adalah untuk memahami diri sendiri, apa yang kita inginkan, apa yang kita harapkan, apa yang menjadi masalah buat kita.

Saya sendiri masih belajar memahami betul-betul apa yang menjadi keinginan, harapan, dan masalah. Karena tanpa memahami ini semua, sebetulnya kita ngga bisa membuat tujuan maupun prioritas. Dan tanpa tujuan dan prioritas, semua bakal kacau.

Baca juga  Mengajari Tradisi Mitoni ke Suami Jepang: Responnya Unik

Kesimpulan

Sebagai perempuan, banyak sekali yang saya sadari masih belum saya kuasai dan masih harus saya pelajari dalam berumahtangga dengan orang asing. Mulai dari soal ekspektasi, komunikasi, dan fokus pada tujuan dari sebuah hubungan.

Dalam menghadapi permasalahan berumahtangga, saya menemukan jurnal emosi sangat efektif buat saya, tapi tentu yang paling dasar dan paling penting sebenernya adalah memahami diri sendiri.

Bagaimana dengan teman-teman, apakah saran terbaik teman-teman dalam menghadapi konflik berumahtangga?

Share this post

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.