Suatu hari, saya membuka instagram dan melihat sebuah postingan yang berjudul “Fakta Pahit Pernikahan yang Tidak Pernah Dikatakan Orang” dari sebuah akun instagram @berbagiilmuparenting.

Entah kenapa, melihat judulnya saja, saya langsung ter-trigger untuk membuka. Maklum, nikah masih seumur jagung, jadi pingin tahu bagian pahit-pahitnya juga biar bisa antisipasi.

Di dalam postingan tersebut ada 5 poin penting, yang menurut saya ada benarnya, bahkan buat pernikahan antar negara seperti yang saya alami. Apalagi yang diurai di poin nomer 3, bener bingittt. Walaupun, ada juga beberapa poin yang menurut saya relatif.

Apa saja ke lima poin tersebut?

Jatuh cinta itu mudah, yang sulit adalah bagaimana tetap saling mencintai

Jatuh cinta sama orang asing sebenernya menurut saya sulit hehehe. Naksir sih gampang. Liat yang ganteng, kemudian naksir, memang mudah. Tapi, buat jatuh cinta itu harus mengenal dulu, untuk mengenali, harus ngerti bahasa dan budayanya, jadi menurut saya sulit.

Memang menjaga untuk tetap saling mencintai itu lebih susah. Apalagi dengan bahasa dan bahasa cinta yang berbeda pula.

Kadang saya suka bertanya-tanya, setelah hampir 2 tahun ini, apakah dia masih cinta seperti dulu sewaktu semangat-semangatnya nikah? Berhubung suami ini orang asing dengan budaya yang berbeda, saya juga kadang bertanya, dia tuh ada perasaan nyesel nikah sama orang asing ngga ya? (remember the perks of living in fear? read here)

But, at the end of the day, saya hanya bisa mempercayai pasangan. Rasanya, energi yang lebih besar dari sepasang suami istri bukan lagi soal cinta mencintai, tapi soal rasa percaya. I know who he is, and I trust my judgement.

Bukan soal percaya secara personal aja, tapi percaya juga sama keputusan dan penilaian yang dibuat oleh diri sendiri.

Baca juga  5 saran dalam berumahtangga dengan orang asing

Tahun pertama pernikahan akan sangat menentukan

Setuju banget buat poin yang ini. Saya pun merasakan rasanya diombang-ambing di tahun pertama pernikahan.

Mulai dengan kenyataan harus LDR, harus membuat pola komunikasi yang baik, belajar untuk saling percaya meskipun berjauhan, belajar untuk ngga egois dan bisa berbagi, sampe ke pelajaran untuk membuat prioritas (yang ini sangat bermanfaat!).

Meskipun sekarang juga masih bisa dibilang “tahun-tahun pertama pernikahan”, but I am glad I passed the first year very well tanpa drama yang berlebihan meskipun kondisi pernikahan saya sama sekali bukan yang ideal.

Still, not out of the woods yet.

Pasanganmu bukanlah orang yang bertanggungjawab atas kebahagiaanmu

Ini adalah konsep yang hits me so d*mn hard. Fakta pahit pernikahan yang menurut saya paling bener.

Sewaktu masih “muda” dulu, saya membayangkan memiliki suami yang “bisa membahagiakan saya”. Ternyata, saya baru sadar bahwa konsep itu kurang pas.

Kenapa? Ketika kita menggantungkan kebahagiaan kita pada orang lain, lalu bagaimana nasib kita jika orang lain itu pergi? Apakah artinya kita tidak bisa bahagia lagi? Apakah kita harus selalu tergantung pada keberadaan orang lain?

Bukannya suami saya ngga bisa membahagiakan, tapi dia mengajarkan saya konsep bagaimana bertanggungjawab terhadap diri sendiri, termasuk bertanggungjawab terhadap kebahagiaan kita.

Bahagia adalah sebuah kebutuhan primer dari segi psikologis yang seharusnya bisa kita penuhi sendiri, seperti kebutuhan kita terhadap makanan.

Ketika kita sudah bisa membuat diri sendiri bahagia, maka diri kita yang bahagia itu bisa memberikan energi yang sama ke orang lain. Dari situlah kemudian kita bisa membahagiakan orang lain.

Jadi, dalam pernikahan, dan juga dalam kehidupan, jangan berharap kamu bisa membahagiakan orang lain sebelum kamu membahagiakan diri sendiri. Dan jangan berharap orang lain akan membahagiakanmu, karena itu tanggungjawabmu sendiri.

Baca juga  Peran laki-laki dalam keluarga Jepang: antara stereotipi dan realita

Kepada teman dan keluarga yang masih belum menemukan jodoh, saya ingin bilang, bahwa jodoh itu bukan sumber kebahagiaanmu. You should be happy with yourself. Berharap bahwa dengan menikah kita akan lebih bahagia sebenernya adalah ilusi.

photo: Canva

Saling cinta saja tidak cukup, harus berbagi visi, misi, dan impian yang selaras

Barangkali ini adalah PR yang cukup serius untuk saya dan suami. Kami punya visi dan impian yang selaras, tapi misi yang kami kerjakan untuk mencapai visi dan impian itu tidak selalu selaras.

Di sinilah saya jadi belajar banyak tentang prioritas, menjadi team player dan tidak egois. Satu hal lagi yang saya pelajari dan menurut saya penting adalah tentang mengalah.

Tidak semuanya harus kita pertahankan mati-matian. Ada kalanya kita harus mengalah demi visi, misi, dan impian yang selaras. Yang penting, prinsip saja yang dipegang kuat.

Dan memang betul apa kata postingan ini, cinta saja memang tidak cukup.

Tak seperti resepsi yang meriah, hidup berumah tangga bisa terasa suram

Alhamdulillah-nya, saya ngga pernah sedikitpun merasa berumah tangga ini suram.

Permasalahan? Banyak. Berantem? Banyak juga. Ekspektasi yang tidak tercapai? Ya pasti ada. Tapi ngga ada satu pun fakta pahit pernikahan yang membuat pernikahan itu sendiri terasa suram.

Justru saya merasa permasalahan antar-negara, antar-budaya yang saya rasakan bersama suami adalah sebuah keunikan tersendiri. Ada tantangan tersendiri ketika kita berupaya untuk memecahkannya.

Jadi, kembali lagi ke mindset kita, ke tujuan yang ingin dicapai dalam berumahtangga. Apakah menikah hanya supaya “lebih bahagia”?

Sekali lagi, kalau hanya ingin bahagia, saya tidak akan “pilih menikah”, karena bahagia sudah sewajarnya kita bisa dapatkan sendiri tanpa kehadiran orang lain, tanpa harus menjadikan pernikahan sebagai parameter bahagia.

Baca juga  Mengajari Tradisi Mitoni ke Suami Jepang: Responnya Unik

Well, ini hanya opini pribadi sih, dari sekian banyak kisah yang saya alami. Kalau menurut teman-teman yang sudah berumahtangga, poin mana yang paling penting?

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *