Saya bukan mau memberi teori tentang parenting, tapi saya hanya ingin berbagi cerita tentang semacam kepercayaan bagi para orangtua dalam mendidik anak yang saya dengar dari suami saya.

Kenapa tiba-tiba membahas ini padahal saya zero experience?

Suatu hari teman baik saya yang baru punya baby mengirimkan chat ke saya, out of the blue, menanyakan tentang prinsip parenting di Jepang. Usut punya usut, ternyata teman saya tertarik dengan parenting ala Jepang karena tayangan “Old Enough” di Netflix.

Old enough di Netflix

Tayangan tersebut menayangkan anak-anak usia pre-school (2-4 tahun) yang diminta untuk melakukan tugas secara mandiri seperti membeli barang ke toko, membawa barang satu tempat ke tempat lain, tanpa ditemani siapapun, termasuk orang tua mereka.

Hal tersebut ternyata bikin banyak orang tertarik dan bertanya: bagaimana orangtua di Jepang mendidik anaknya begitu mandiri?

Anak kecil di Jepang: Mandiri, Santun, Tidak Rewel

Itulah kesan pertama yang saya liat dari rata-rata anak-anak di Jepang, baik secara langsung, maupun dari tayangan di TV. Yah, walaupun mesti ada juga yang ngga begitu.

Anak-anak di Jepang, meskipun masih usia pre-school, saya lihat mereka sudah terlatih untuk bisa disiplin cuci tangan, sikat gigi, membereskan sepatu ketika masuk rumah, membereskan mainan setelah bermain, membantu ibunya di rumah dan hal-hal rutinitas lainnya.

Kadang kala jika ketemu anak-anak kecil di kereta, biasanya mereka tenang, tidak banyak tingkah, tidak cranky, bisa duduk dengan sopan, dan biasanya mereka lepas sepatu dulu jika akan menaikkan kakinya ke atas kursi atau orang tua mereka biasanya mengingatkan.

Baca juga  3 Produk Skincare dari Muji yang Recommended!

Suatu hari, saya pernah melihat seorang bapak membawa anak perempuannya masih umur TK untuk makan disebuah warung makan dimana saya dan suami juga sedang makan siang.

Saya lihat anak itu sangat tenang. Bisa duduk sendiri bersebelahan dengan bapaknya, bisa makan sendiri tanpa merepotkan bapaknya, sampai-sampai si pemilik warung kagum dengan si anak karena anak ini sangat “manut”. Anak tersebut sangat santun ketika ditanyai pemilik warung, dan dari cara bicaranya, anak ini bukan tipe pendiam.

Sontak saya langsung tanya ke suami, “Anak kecil di Jepang kok bisa gitu sih?”
Suami saya menjawab, “Kaeru no Ko wa Kaeru”.

Kuncinya bukan genetik, tapi lingkungan

Dulu saya pikir, “Ah, ini karena mereka orang Jepang, pasti genetik nih. Karena mayoritas orang Jepang begitu”. Ternyata saya salah.

Selama tinggal beberapa tahun di Jepang, saya sudah berulangkali ketemu anak-anak Indonesia yang tinggal di Jepang. Sama seperti anak-anak Jepang lainnya, biasanya mereka disiplin dan mandiri.

Sebagian anak yang saya temui memang “bersekolah” di Jepang, masuk ke nursery atau daycare gitu. Saya pikir, ini pasti karena ajaran di sekolahnya. Tapi, ternyata ada juga anak Indonesia di Jepang yang ngga masuk ke nursery atau daycare, tapi perilaku mereka juga mandiri dan disiplin.

Sebenernya ngga heran kalau anak-anak di Jepang berubah jadi anak yang tenang, disiplin, dan teratur. Karena mereka hidup di lingkungan yang ngga bisa berisik seenak udel, bahkan di rumah sekalipun. Mereka hidup dengan banyak aturan yang kalau ngga disiplin ya ngga bakal terlaksana. Layaknya orang Jepang yang selalu menjaga ketenangan, selalu disiplin dan menjunjung tinggi aturan.

Anak kecil yang mandiri dan disiplin dalam tayangan “Old Enough”

Akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa ini sepertinya pengaruh lingkungan. Karena mereka tinggal di Jepang yang mana kehidupan sosialnya serba mandiri, teratur, dan disiplin. Lantas apa hubungannya dengan jawaban suami, “Kaeru no Ko wa Kaeru”?

Baca juga  5 saran dalam berumahtangga dengan orang asing

Kaeru no Ko wa Kaeru

Secara harafiah istilah ini artinya adalah “Kecebong itu adalah Katak”, atau “Anak katak itu adalah katak”. Kalau dalam bahasa Inggris, proverb ini sama artinya dengan “The apple doesn’t fall far from the tree” atau “like a father, like a son”. Sudah mulai paham?

Orang Jepang, termasuk suami saya, percaya bahwa anak katak itu ngga akan tiba-tiba berubah jadi kuda misalnya. Anak katak pasti besarnya akan jadi katak. Kalau kita ingin anak yang santun, mandiri, dan disiplin, mereka harus terlahir dari orang tua yang santun, mandiri, dan disiplin.

Jadi, kunci mendidik anak yang santun, mandiri, dan disiplin bukan hanya lingkungannya, tapi dari faktor orang tuanya juga. Karena madrasah pertama anak-anak adalah orang tua, role model pertama anak-anak pasti adalah orang tuanya. Anak pasti tumbuh melihat punggung orang tuanya.

Menurut suami saya, ngga semua anak di Jepang santun, mandiri, dan disiplin, meskipun mereka tinggal dan bersekolah di lingkungan yang sama. Ada juga yang nakal. Tapi, ketika melihat anak yang nakal, coba lihat orang tuanya seperti apa. Biasanya ngga jauh beda dengan si anak ini tadi.

Saya jadi kepikiran dengan anak yang saya lihat di warung kala itu. Iya juga ya, bapaknya si anak memang terlihat kalem, ngga marah-marah sama anaknya. Saya juga ingat ketika melihat anak kecil yang diingatkan ibunya untuk melepas sepatu ketika naik ke kursi kereta. Ibunya tidak mengingatkan dengan nada tinggi, melainkan dengan agak berbisik dan dengan mendekatkan wajahnya ke si anak, supaya si ibu bisa berkomunikasi dengan level yang sama dengan si anak.

Cara orang tua bicara ke anak-anak seperti yang digambarkan dalam tayangan “Old Enough”

Saya pernah melihat keluarga Jepang yang agak “ribut” di kereta. Ternyata si bapak dan ibunya juga ribut sama anaknya, ngga heran si anak jadi ngomongnya agak “keras” di dalam kereta.

Baca juga  Orang Jepang dan Adiksi Judi

Di antara anak-anak Indonesia yang saya temui di Jepang, ada yang tetap “rame” seperti layaknya orang Indonesia, meskipun mereka sekolah di sekolah Jepang. Kenapa? Ya karena mereka hidup seperti orang Indonesia di rumah masing-masing.

Kalau melihat tayangan “Old Enough” jadinya ngga heran anak-anak kecil sudah jago running errand begitu. Setiap hari pasti mereka liat ibunya belanja-belanji, which is memang pemandangan yang umum di Jepang. Di beberapa episode juga pernah disebutkan bahwa anak-anak itu menirukan ibu-nya ketika belanja misalnya.

Bagi orang Jepang sendiri, mereka memang percaya bahwa anak itu ngga akan beda jauh dengan orang tuanya. Makanya, penting bagi para calon orang tua untuk bener-bener siap dulu sebelum menjadi orang tua. Ini juga mungkin penyebab kenapa makin ke sini, makin berkurang jumlah orang Jepang yang tertarik jadi orang tua. Karena memang tidak semudah itu bersiap jadi orang tua!

Pendidikan pertama anak adalah orang tuanya

Ngga di Jepang, ngga di Indonesia, mungkin di belahan dunia yang lain pun juga sama, Kaeru no Ko wa Kaeru. Kalau kita ingin anak kita menjadi anak generasi emas, maka bukan cuma si anak yang perlu kita ubah, kita pun juga harus berubah menjadi orang tua emas.

Bahkan, sebelum ngomongin soal lingkungan, soal sekolah, soal pendidikan, orang tua tetap menjadi hal pertama yang mempengaruhi seorang anak. Makanya, sebelum punya anak, calon orang tua harus “sekolah” dulu.

Sebab, hal pertama yang dilihat dan ditiru oleh anak tetaplah orang tuanya.

Setuju?

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *