Solo traveling atau jalan-jalan sendirian emang terdengar seperti kesepian. Tapi, dari pengalaman saya, justru solo traveling banyak membantu saya, bahkan dalam hal self-development.

“Jalan-jalan sendiri? Ngga punya temen ya?”

Kalau saya diumur-umur SMA sampai umur 20an, mungkin kalimat ini akan sering saya dengar kalau saya pergi sendirian. Maklum lah, umur segitu emang umurnya bersosialisasi, umurnya aktualisasi diri dan mencari pengakuan. Engaging with people jadi suatu keharusan.

Tapi, semakin berumur, saya semakin sadar bahwa tiap orang punya prioritas masing-masing. Saya pun punya prioritas sendiri, yang akhirnya membuat acara “jalan-jalan bareng” menjadi makin sulit.

Awalnya saya pikir saya masuk ke krisis paruh baya dimana saya mulai mengalami social withdrawal. Setelah saya ngobrol dengan beberapa teman, ternyata banyak yang mengalami dinamika yang sama.

Bagi yang sudah berkeluarga, tentu keluarga akan jadi prioritas. Bagi yang masih single, tentu berkumpul dan main bersama akan lebih menyenangkan. Jadinya, kepentingan tiap orang belum tentu bisa bertemu.

Kalau kamu ngga diajak jalan-jalan, bukan berarti kamu bukan temannya. Bisa jadi jadwal dan prioritasnya aja yang ngga cocok.

Belakangan, ini juga yang mendorong saya untuk lebih banyak jalan-jalan sendirian. Lagi susah nyamain jadwal dan visi-misi sih.

Solo Traveling and Self Development

Kalau dulu saya jalan-jalan sendiri karena memang lagi ngga ada yang bisa diajak jalan, karena teman-teman yang mulai sibuk dengan karir dan prioritas masing-masing, sekarang saya baru menyadari bahwa ternyata banyak manfaat yang kita dapatkan dari solo traveling.

Baca juga  Tsutenkaku Tower di Osaka: Menara Lawas yang punya Daya Tarik Tersembunyi

Knowing yourself

Kalau solo traveling mengajarkan kita untuk mandiri, itu sudah jelas. Karena segala macam keperluan jatuh kita sendiri yang mengatur.

Tapi, dalam kesempatan yang sama, sebenarnya kita jadi bisa memahami diri sendiri, what works and what don’t. Kita bisa berlama-lama mengunjungi tempat yang kita sukai dan skip tempat-tempat turisme standar yang ternyata doesn’t really work for us.

Misalnya, kita rela lari-lari ngejar kereta atau nonton pawai dibawah terik matahari, tapi ngga suka tempat yang cuma foto-foto doang aja. Yang mana kalau kita jalan-jalan bareng-bareng ngga selalu bisa kita lakukan.

Dengan memahami pola traveling kita, akan membantu diri kita belajar lebih mudah untuk memahami apa yang kita mau, terlepas dari pendapat orang lain. Bahkan di kehidupan kita sehari-hari.

Saya pribadi suka pilih tempat wisata atau event yang kadang nyeleneh, makanya kadang prefer jalan sendiri. Apalagi kalau udah jatuh cinta ama sesuatu yang unik di tempat wisata, susah buat lepas soalnya…

Know your own pace

Ada orang yang kalau jalan-jalan maunya cepet-cepetan, biar sehari bisa dapat banyak tempat ikonik. Tapi ada juga yang maunya pelan-pelan, yang penting dapat feel-nya. Ada juga yang pokoknya dapet yang instagrammable.

Kalau kita solo traveling, kita bisa memilih tempo atau pace seperti apa yang nyaman buat kita. Apakah kita tipe yang cepet-cepetan atau sebaliknya.

Terbiasa menentukan pace juga berpengaruh dalam kehidupan kita sehari-hari. Saya baru menyadari pace yang nyaman untuk diri sendiri justru dari pengalaman jalan-jalan sendirian ini.

Setelah mengetahui, entah kenapa sekarang jadi lebih nyaman aja dengan personal pace yang memang beda dengan orang-orang lain.

Baca juga  Shirakawa-go Tanpa Salju: seperti apa?

Taught us how to make a decision

Ini nih yang kerasa banget di saya kalau lagi jalan-jalan sendiri. Suka terlena dan lupa waktu, yang akhirnya membuat saya harus memilih dengan cepat: lanjutin aja atau pulang segera wkwkwk.

Atau kalau ternyata tujuan wisatanya terkesan bosok: lanjut masuk atau pindah obyek yang lain.

Kalau pas jalan-jalan bareng, biasanya saya ngikut aja. Jadi, hampir tidak pernah saya membuat keputusan. Baru terasa ketika saya jalan-jalan sendiri. Ternyata ada tantangannya.

Ternyata, bosok ngga bosok tempat wisatanya, ketika keputusan itu saya buat sendiri, saya malah jadi merasa content. Merasa puas dengan diri sendiri. Walaupun kadang-kadang kalau tempatnya bosok banget, tengah malem sebelum tidur suka kesel sendiri wkwkwk.

Taught us to improvise

Tiap kali solo traveling, pasti rencana itinerary yang saya buat ngga 100% bisa dilakuin. Pasti ada aja momen dimana saya terhanyut di satu tempat wisata, dan jadi kehilangan kesempatan berkunjung ke tempat wisata lainnya.

Buat saya yang rada-rada melankolis/perfeksionis, kadang kesel ketika rencana kita ngga bisa berjalan sepenuhnya. Tapi, disaat yang sama saya jadi belajar bagaimana berimprovisasi.

Karena sejatinya di dunia ini, sangat jarang ada suatu rencana besar yang 100% lurus dan mulus tanpa gangguan. Dari petualangan-petualangan sendiri, saya jadi belajar berimprovisasi supaya tujuan utama kita dalam traveling tepat kita dapatkan.

Depend on yourself

Iya, mandiri. Jelas lah ya. Ya namanya jalan-jalan sendirian, ya harus bisa bergantung sama diri sendiri lah.

Tapi jujur aja, saya dulu pertama kali going solo merasa sangat-sangat tidak pede dengan itinerary yang saya susun. Soalnya saya terbiasa ngikut aja.

Lama kelamaan saya jadi lebih percaya sama diri sendiri. Dan rasanya puas ketika kita mendapatkan pengalaman yang menarik dari perjalanan kita karena kita percaya diri sendiri.

Baca juga  Shirakawa-go Tanpa Salju: seperti apa?

Dari sini juga saya malah jadi belajar untuk ngga FOMO (fear of missing out). We don’t miss anything by going out alone!

Solo traveling: Bukan berarti berkelompok itu buruk!

Well, kalau dilihat di YouTube Channel saya, tetep saja video jalan-jalan saya banyak yang rame-rame sama temen-temen atau paling ngga sama pacar/suami.

The thing about traveling in a group is, that you do not need a spectacular spot when you have your best traveling buddies with you.

Buat saya, traveling bareng temen-temen itu seru banget, kadang lebih seru daripada spot wisatanya sendiri. Senda gurau sepanjang perjalanan, dan pengalaman terbaik plus terkampret selama jalan bareng itu aja sudah jadi pengalaman tersendiri yang berharga banget.

Solo Traveling: better?

Well, bukan berarti solo traveling lebih baik daripada traveling bersama ya. Ngga ada yang lebih superior. Hanya saja, ada beberapa manfaat yang kadang tidak disadari dan ternyata bisa kita dapatkan dari petualangan sendiri tersebut.

Dari solo traveling, kita bisa lebih memahami diri sendiri dan lebih mengerti tempo diri sendiri. Dari kesempatan yang sama kita juga bisa belajar membuat keputusan, berimprovisasi, dan belajar untuk percaya diri.

Adakah diantara temen yang hobi solo traveling? Bagaimana pendapat teman-teman?

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published.